Haidar Alwi: Bangkitkan Ekonomi Indonesia dari Perut Bumi Sendiri

Haidar Alwi: Bangkitkan Ekonomi Indonesia dari Perut Bumi Sendiri
R Haidar Alwi
120x600
a

JAKARTA, OTONOMINEWS.ID R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, tegas menyatakan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia bukan sekadar harta tambang, melainkan modal terbesar bagi kedaulatan ekonomi bangsa. Namun, kenyataannya rakyat masih terlupakan. “Kita pemimpin dunia dalam produksi emas, batu bara, dan nikel. Tetapi yang menikmati justru bukan rakyat, melainkan pihak asing atau elite tertentu,” ungkapnya dalam forum diskusi kebijakan nasional.

Menurut Haidar Alwi, jika Indonesia benar-benar ingin bangkit sebagai bangsa yang mandiri dan makmur, saatnya mengelola kekayaan alam sesuai semangat nasionalisme: dari hulu ke hilir, untuk rakyat, dan dipimpin oleh bangsa itu sendiri.

Baca Juga :  Haidar Alwi Sebut Tak Ada Larangan Presiden Memihak dan Berkampanye di Pemilu

*Data Tambang Terkini: Dominasi Global dengan Tantangan Baru.*

*Emas:*
Produksi emas Indonesia stagnan di 100 ton/tahun (2023–2024), berada di peringkat 10 dunia. Perusahaan seperti Archi Indonesia optimistis tumbuh 25% di 2025 dari 93,4 koz menjadi 117 koz. Antam ditargetkan menjual 45 ton emas sepanjang 2025.

*Batu Bara:*
Produksi tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 800 juta ton, meskipun lesu permintaan global, terutama dari China dan India. Penurunan ekspor awal 2025 menyebabkan harga dan pendapatan negara menurun.

*Nikel:*
Produksi nikel melonjak dari 3,363 juta ton (2023) ke 3,526 juta ton (2024), dan diproyeksikan terus naik pada 2025. Harga global fluktuatif, sempat berada di kisaran US$15.150–16.013/ton pada pertengahan 2025. Cadangan nikel Indonesia terbesar dunia, dengan kawasan utama di Morowali Industrial Park.

Baca Juga :  Haidar Alwi Apresiasi Kapolri Jenderal Sigit Membentuk Dest Ketenagakerjaan Polri

*Kaya Produksi, Rentan Volatilitas.*

*Menurut Haidar Alwi,* meskipun volume tambang Indonesia luar biasa, namun:

Stagnasi emas menunjukkan hilirisasi lemah dan terlalu bergantung pada pasar global tanpa menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Batu bara rentan terhadap gejolak pasar global, harga dan permintaan menurun, padahal struktur ekonomi yang bergantung padanya belum siap transisi.

Nikel memang naik drastis, namun harga fluktuatif akibat oversupply dan belum diimbangi hilirisasi baterai & EV domestik, Indonesia banyak mendirikan smelter, tapi investasi teknologi masih dari pihak asing.

Baca Juga :  Prabowo Gibran Diyakini Menang Satu Putaran, Haidar Alwi: Tinggal Menjaga Suara Rakyat Tidak Dicuri

*Haidar Alwi menyebut* fenomena ini sebagai kutukan sumber daya: melimpah SDA, tapi ekonomi masyarakat miskin karena kontrol hilir yang tidak berfungsi untuk rakyat.

Untuk itu, Haidar Alwi menekankan kembali pentingnya menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945, yang berbunyi:

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *