Adapun lima tersangka lainnya berasal dari kelompok Ansharuh Daulah yang berafiliasi dengan Daulah Islamiyah atau ISIS. Kelompok tersebut dinilai aktif menyebarkan propaganda serta ajakan melakukan aksi teror.
“Pendukung Daulah (ISIS) yang aktif menyerukan propaganda dan seruan untuk melakukan aksi teror,” ucapnya.
Kelima tersangka dari kelompok Ansharud Daulah tersebut diamankan di sejumlah wilayah berbeda, meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua.
Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Pol. Syahardiantono mengungkapkan bahwa Densus 88 telah menangani sejumlah kasus terorisme menonjol sepanjang tahun 2025.
Kasus pertama berkaitan dengan pengungkapan jaringan radikalisme yang menyasar anak di bawah umur melalui rekrutmen secara daring. Dalam kasus tersebut, terdapat lima tersangka dengan target rekrutmen mencapai 110 anak di 23 provinsi.
Kedua, Densus 88 berhasil menggagalkan empat rencana aksi terorisme yang disiapkan oleh kelompok Ansharuh Daulah. Ketiga, penangkapan tujuh tersangka terorisme dalam rangka pengamanan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Selain itu, Densus 88 juga melakukan penanganan terhadap 68 anak di 18 provinsi yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui grup Terrorist Cyber Community (TCC), termasuk paham neo-Nazi dan white supremacy.
“Mereka ditemukan telah menguasai berbagai senjata berbahaya dengan rencana aksi yang menyasar lingkungan sekolah. Serta teman sejawat mereka,” kata Syahardiantono.
Polri menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan langkah pencegahan dan penindakan terhadap jaringan terorisme demi menjaga keamanan nasional, khususnya pada momen strategis seperti perayaan hari besar keagamaan dan pergantian tahun.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











