Dikunjungi Utusan Pemkab Pelalawan dan Perwakilan Universitas Jambi, Wabup Candra Paparkan Kondisi Bencana di Kabupaten Solok

Otonominews
Dikunjungi Utusan Pemkab Pelalawan dan Perwakilan Universitas Jambi, Wabup Candra Paparkan Kondisi Bencana di Kabupaten Solok
120x600
a

KOTO BARU, OTONOMINEWS.ID – Wakil Bupati Solok, H. Candra menyampaikan langsung kondisi terkini penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Solok kepada utusan Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, serta perwakilan Universitas Jambi. Pertemuan berlangsung di Posko Utama Pengendalian Bencana Kabupaten Solok, Koto Baru, Kecamatan Kubung, Senin (08/12/2025).

Wabup Candra hadir bersama Dandim 0309 Solok Letkol Sapta Raharja, Kapolres Solok Kota AKBP Mas’ud Ahmad, Kabag OPS Polres Solok Arosuka, Staf Ahli Bupati Deni Prihatni, dan sejumlah kepala OPD.

Dalam pemaparannya, Wabup Candra menjelaskan beratnya situasi di lapangan, termasuk bagaimana dirinya bersama Bupati JOn Firman Pandu dan Kelapa OPD beserta tim di lapangan, melakukan koordinasi langsung di titik-titik bencana.

Baca Juga :  Wabup Jon Firman Pandu Datangi PLN Cabang Solok, Bicarakan Kebutuhan  Akan Listrik

“Terkadang kami berkoordinasi langsung di tengah sungai sambil mengawasi alat berat bekerja. Masyarakat yang trauma bisa melihat pemerintah ada bersama mereka,” ujar Candra.

Dalam pertemuan tersebut hadir Kalaksa BPBD Pelalawan Zul Fan, Kadis Damkar Pelalawan Indrawan Petra, perwakilan Polres Pelalawan Indrawan Putra, Kompol Martin dari Polda Sumbar, Wakil Rektor Universitas Jambi Dr. Revisi Asra, IOF Jambi, PMI Jambi, serta sejumlah media dan konten kreator.

Wabup Candra juga menyampaikan permohonan maaf dari Bupati Solok Jon Firman Pandu yang tidak dapat hadir karena tengah mengikuti rapat bersama anggota DPR RI Andre Rosiade serta jajaran Pemprov Sumbar terkait perbaikan infrastruktur air bersih yang rusak akibat bencana.

Baca Juga :  Dikritik Walhi dalam Menangani Banjir Jakarta, ini Kata Gubernur Pramono

Lebih lanjut Wabup Candra memaparkan bahwa bencana yang terjadi sejak 23 November 2025 itu membuat delapan kawasan sempat terisolasi akibat jalan dan jembatan putus. Sejumlah nagari seperti Saniang Bakar, Muaro Pingai, dan Paninggahan bahkan harus dievakuasi karena akses darat terputus total.

“Beberapa hari kami mengantarkan bantuan pakai speedboat karena semua akses terputus. BNPB bahkan harus menurunkan bantuan via helikopter,” jelasnya.

Meski demikian, dirinya bersyukur tidak ada korban jiwa maupun warga hilang, meskipun ratusan rumah mengalami kerusakan parah.

Baca Juga :  Anggota DPRD DKI Inggard Apresiasi Pelibatan PJLP dalam Pengelolaan Sampah dan Menekan Potensi Banjir

Menurut Candra, salah satu penyebab besarnya kerusakan adalah material batu dan kayu berukuran besar yang terbawa arus, sehingga membelah aliran sungai menjadi dua hingga empat jalur baru.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *