Haidar Alwi menilai bahwa demokrasi hanya bisa tumbuh jika hukum berjalan dengan empati dan kritik dijalankan dengan etika. Pemuda harus berani mengoreksi, tapi dengan data dan niat memperbaiki. Sementara kepolisian harus siap mendengar tanpa kehilangan wibawa.
“Negara ini akan maju jika hukum mampu melindungi keberanian, dan keberanian tetap menghormati hukum,” kata Haidar Alwi.
Menjaga Ruh Sumpah Pemuda.
Bagi Haidar Alwi, Sumpah Pemuda adalah janji spiritual untuk menjaga bangsa dengan ilmu dan moral. Semangat itu akan terus hidup selama pemuda tidak kehilangan idealismenya dan aparat tidak kehilangan nurani. Haidar Alwi menilai, sinergi keduanya adalah fondasi moral bagi Indonesia yang aman, adil, dan berpikir maju.
Haidar Alwi juga menegaskan bahwa kerja kepolisian bukan semata penegakan hukum, tetapi juga pendidikan sosial bagi masyarakat.
Pemuda tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus turun langsung dalam kerja-kerja kebangsaan. Ketika dua kekuatan ini berpadu, hukum tidak lagi menjadi momok, melainkan cahaya yang menuntun arah kehidupan bersama.
“Negara kuat bukan karena banyak aturan, tetapi karena rakyatnya sadar makna keadilan,” kata Haidar Alwi.
Pemuda adalah nurani bangsa, polisi adalah penjaganya. Bila keduanya mampu berjalan seiring, Sumpah Pemuda tidak akan menjadi seremonial tahunan, tetapi akan hidup dalam budaya disiplin dan tanggung jawab bersama.
“Ketika ilmu dan ketertiban berjalan beriringan, Indonesia tidak hanya aman, tapi juga berakal,” jelas Haidar Alwi.
Sementara, Direktur Haidar Alwi Institute, Sandri Rumanama, dalam merayakan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2025, pihaknya menggelar dialog publik. Diskusi ini melibatkan berbagai pihak yang terkait, mulai dari tokoh pemuda hingga kepolisian.
“Karena kami yakini pemuda memiliki peran penting bagi pembangunan bangsa. Tak bisa hanya pemuda saja yang bergerak apabila ingin membangun negara ini, perlu melibatkan berbagai kalangan pula,” ujarnya.
Di momentum Hari Sumpah Pemuda, ia mengajak para pemuda dapat berkontribusi lagi dalam berbagai aspek. Hal ini bisa dimulai dari diri sendiri.
“Karena setiap hal besar, pasti diawali dengan upaya kecil, langkah kecil terlebih dahulu. Jangan bermimpi membangun bangsa kalau bangun tidur saja masih siang,” kata Sandri.
Sementara, tokoh pemuda-pemudi yang mewakili Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Putri Khairunnisa menilai pemuda bukan hanya market atau segmen pasar. Pemuda, menurutnya harus menjadi penopang atau penentu kesuksesan.
“Bukan lagi kita yang ditentukan,” ujarnya.
Menurut Putri, apa yang dicita-citakan pemuda saat ini bukan lagi tentang pemuda itu sendiri. Tapi hal yang lebih besar, yakni kepentingan negara Indonesia.
“Semangat kita, keinginan kita, mimpi kita semua, bukan hanya pemuda, tapi bangsa insyaallah bisa terwujud dan terdepan. Itu yang menjadi catatan penting saya,” tandasnya.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed









