JAKARTA, OTONOMINEWS.ID – Paguyuban Pengusaha Bajaj Jakarta (Pasapaba) mengingatkan bahwa Bajaj adalah moda transportasi ikonik khas DKI Jakarta peninggalan urban yang nyaris punah.
Karena itu, Pasapaba meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menghidupkan kembali Bajaj untuk menopang pariwisata.
Dukungan itu bisa dilakukan dengan memberikan subsidi dan kebijakan afirmatif bagi Bajaj berbahan bakar gas (BBG) maupun Bajaj listrik.
Ketua Pasapaba H. Tarjono mengatakan, dari sekitar 14.000 unit bajaj yang dulu beroperasi di Jakarta, kini hanya tersisa sekitar 5.000 unit. Kondisi ini terjadi karena kurangnya dukungan pemerintah dan tidak adanya kebijakan lanjutan setelah program konversi BBG diluncurkan.
“Fasilitas pengisian BBG makin langka, tidak ada program peremajaan, dan akhirnya bajaj kalah bersaing dengan TransJakarta, Mikrotrans, serta transportasi daring,” kata Tarjono di Jakarta, Sabtu (11/10).
Sudah Ada Kajian Zonasi Sejak 2018
Menurut Tarjono, operasional bajaj sebenarnya sudah pernah dikaji secara profesional oleh konsultan pada 2018, dengan sistem pengaturan berdasarkan zona per kecamatan atau beberapa kelurahan.
Ia menilai, jika sistem zonasi itu dijalankan kembali, maka bajaj sangat mungkin disubsidi seperti Mikrotrans JakLingko.
“Jangan hanya bus besar, bus sedang, dan Mikrotrans yang disubsidi. Pengemudi dan pengusaha bajaj juga bagian dari transportasi rakyat yang harus diperhatikan,” ujarnya.
Kontribusi PAD dan Usulan Subsidi
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











