Sementara itu, Ketua DPRD Sumbar Muhidi menekankan bahwa usia 80 tahun bukan hanya capaian, tetapi juga tantangan. Ia menyebut, Sumbar masih menghadapi persoalan pemerataan pembangunan antarwilayah, keterbatasan fiskal, hingga ancaman global yang berdampak pada daerah.
“Peringatan ini harus menjadi titik balik kebangkitan. Kita harus membangun Sumatera Barat yang lebih maju dan modern, tanpa kehilangan identitas sebagai urang Minang yang beradat dan berbudaya,” katanya.

Muhidi juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap program nasional, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), penurunan stunting, transformasi pendidikan, hingga ketahanan pangan.
Kolaborasi Jadi Kata Kunci
Baik gubernur maupun ketua DPRD sepakat bahwa pembangunan Sumbar tak bisa ditopang satu pihak saja. Sinergi pemerintah, DPRD, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan para perantau diyakini menjadi penentu arah kemajuan.

“Seluruh capaian yang kita raih adalah hasil kerja bersama. Maka ke depan, kerja bersama pula yang akan membawa Sumbar menuju daerah madani, maju, dan berkeadilan,” tegas Mahyeldi.
Perayaan HJS ke-80 Sumatera Barat ini akhirnya ditutup dengan semangat kolektif: menjaga jati diri berdasarkan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), sembari melangkah menuju Sumbar yang lebih kompetitif di tingkat nasional maupun global. (ADV)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












