JAKARTA, OTONOMINEWS.ID – R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menilai perlu untuk membongkar kesalahan berpikir Ferry Irwandi yang menyerukan “reformasi total Polri” dalam aksi Kolektif 17+8.
Menurut Haidar Alwi, narasi Ferry terdengar lantang, tetapi sejatinya sesat pikir yang menyesatkan publik dan berbahaya bila dibiarkan.
Ia menegaskan, apa yang diucapkan Ferry bukanlah kritik sehat, melainkan slogan kosong yang lebih dekat dengan provokasi ketimbang solusi nyata untuk bangsa.
Polri Sudah Berubah, Klaim Itu Menyesatkan.
Seruan bahwa Polri harus “dirombak semua” seakan-akan institusi ini beku tanpa perubahan adalah klaim yang menyesatkan.
Haidar Alwi menjelaskan bahwa sejak 1998, Polri sudah mengalami reformasi mendasar: dipisahkan dari ABRI, direstrukturisasi, memperkuat transparansi anggaran, hingga membenahi rekrutmen berbasis merit. Semua langkah itu menunjukkan Polri bukan lembaga yang mandek, melainkan institusi yang terus bergerak maju.
“Menutup mata terhadap capaian ini bukanlah bentuk kritik yang sehat, melainkan sesat pikir yang mengabaikan kenyataan dan membingungkan masyarakat yang sebenarnya butuh informasi objektif,” kata Haidar Alwi.
Haidar Alwi menambahkan bahwa di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Polri bahkan meluncurkan program Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, Berkeadilan).
Program ini bukan sekadar jargon, tetapi agenda nyata untuk memperkuat pelayanan publik berbasis digital, menghadirkan penegakan hukum yang humanis, dan memperluas transparansi kinerja. Pada 2024, aplikasi layanan digital Polri seperti SIM Online dan SKCK Online telah digunakan jutaan masyarakat di berbagai daerah.
“Presisi adalah arah reformasi yang jelas dan terukur. Mengatakan Polri tidak berubah sama saja mengabaikan fakta yang sudah ada di depan mata,” tegas Haidar Alwi.
Slogan Kosong vs Agenda Nyata.
Kesalahan fatal lain dari narasi itu adalah mencampuradukkan kasus individual dengan kegagalan institusi. Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan memang menyentuh hati banyak orang, tetapi menjadikannya alasan untuk menuding Polri gagal total adalah logika keliru.
“Kalau ada satu guru korupsi, bukan berarti seluruh dunia pendidikan gagal. Begitu juga dengan Polri, ada oknum yang salah, ada mekanisme hukum untuk menindaknya, tetapi itu tidak membatalkan seluruh perjalanan reformasi lembaga ini,” jelas Haidar Alwi.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











