“Hari ini, banyak anak SMP sudah pegang HP 24 jam. Tapi adakah orang tua yang benar-benar tahu apa yang ditonton anaknya? Di sekolah, pelajaran moral digantikan target nilai ujian. Ini bahaya laten,” katanya.
Faisal mengajak para pendidik untuk kembali memprioritaskan pembentukan akhlak dan pengawasan terhadap perilaku siswa, bukan semata pencapaian akademik.
Media Juga Harus Hadir sebagai Penyelamat
Sebagai wartawan senior, Faisal juga mengajak para jurnalis untuk tidak hanya menjadi “penonton” dari kasus-kasus kenakalan remaja yang viral, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan pencegahan.
“Media harus ikut menjaga akal sehat masyarakat. Tulis berita bukan hanya soal siapa ditangkap, tapi kenapa dia bisa begitu. Berikan edukasi, bukan sensasi,” tuturnya.
Seruan Moral: Ini Tanggung Jawab Kita Semua
Di akhir pernyataannya, Faisal menegaskan bahwa narkoba adalah ancaman nasional, dan semua pihak harus mengambil bagian dalam melindungi generasi penerus bangsa.
“Kalau hari ini kita cuek, besok yang jadi korban bisa anak kita sendiri. Jangan tunggu sampai terlambat. Mari kita ubah cara pikir: narkoba bukan cuma urusan polisi, ini tanggung jawab kita sebagai bangsa.”
Faisal juga mendorong adanya gerakan nasional berbasis komunitas yang aktif turun ke sekolah, kampus, tempat ibadah, dan ruang publik untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkoba dan pentingnya peran keluarga.
Jangan Menyesal Saat Sudah Terlambat
Apa yang disampaikan Teuku Faisal bukan sekadar peringatan, tapi alarm sosial yang sudah berbunyi keras. Jika tak segera disikapi dengan kolaborasi dan komitmen nyata, Indonesia bukan hanya akan kehilangan generasi, tapi juga masa depannya.***
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











