Berbenah Literasi, Untuk Kebangkitan Sumatra Barat

Berbenah Literasi, Untuk Kebangkitan Sumatra Barat
120x600
a

‎Banyak rumah baca yang hidup segan mati tak mau karena minimnya dukungan dana, fasilitas, dan minat baca dari masyarakat sekitar. Pemerintah daerah memang telah menggalakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), tetapi implementasinya belum menyeluruh dan belum menyentuh akar rumput. Perlu ada kebijakan yang lebih konkret dan berkelanjutan.

‎Literasi bukan hanya tugas guru bahasa Indonesia, melainkan tugas semua pihak: pemerintah, sekolah, orang tua, tokoh adat, tokoh agama, bahkan para pemuda. Bayangkan jika setiap nagari di Sumbar memiliki minimal satu rumah baca aktif yang dikelola oleh pemuda setempat dan didukung oleh pemerintah daerah. Maka akan lahir generasi muda yang tidak hanya pandai berdiplomasi, tapi juga bijak berpikir dan mampu memecahkan masalah di kampung halamannya sendiri.

‎Mendorong Literasi dari Keluarga dan Sekolah

‎Keluarga adalah fondasi utama dari gerakan literasi. Anak yang dibiasakan membaca sejak dini akan tumbuh menjadi pembaca seumur hidup. Sayangnya, budaya membaca di rumah masih sangat lemah. Televisi dan smartphone lebih dominan dalam aktivitas harian keluarga.

Baca Juga :  Gubernur Mahyeldi: Program ADEM, Langkah Nyata Pemerataan Pendidikan Daerah Bagi Anak di Daerah 3 T

‎Peran orang tua sangat krusial untuk menjadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Menyediakan buku-buku cerita anak, membaca bersama sebelum tidur, atau menulis jurnal harian bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar. Literasi tumbuh dari kebiasaan, bukan paksaan.

‎Sekolah sebagai lembaga formal pendidikan juga harus mengubah paradigma dari hanya fokus pada capaian akademik menjadi pencipta ruang kreatif. Guru tidak cukup hanya memberikan tugas membaca buku, tetapi harus menciptakan ruang diskusi, pameran karya tulis, lomba menulis puisi atau cerpen, dan kegiatan lain yang memantik imajinasi.

‎Literasi juga bisa diintegrasikan dalam mata pelajaran lain seperti sejarah lokal, seni budaya, dan bahkan matematika. Sebab sejatinya, semua pelajaran membutuhkan kemampuan memahami informasi dan menyampaikan gagasan secara tertulis.

‎Peran Pemuda: Menulis untuk Mencatat Sejarah Baru

‎Generasi muda Minang hari ini memegang peran vital dalam membangkitkan kejayaan literasi di ranah sendiri. Dengan kemudahan akses informasi dan media sosial, pemuda bisa menjadi agen literasi yang kreatif dan progresif.

Baca Juga :  Pelantikan Kepala Disdukcapil Lima Puluh Kota Menunggu Keputusan Mendagri

‎Pemuda bisa menulis artikel opini tentang kondisi daerah, membuat vlog edukatif tentang sejarah lokal, menerbitkan zine atau buletin komunitas, hingga mendirikan podcast yang mengulas buku dan isu-isu sosial. Ini adalah bentuk literasi yang relevan dengan zaman, dan mampu menjangkau lebih banyak audiens.

‎“Jika engkau bukan anak seorang raja, atau anak orang kaya, maka menulislah,” menjadi lebih bermakna dalam konteks ini. Menulis bukan hanya sarana eksistensi, tetapi bentuk perlawanan terhadap keterbatasan. Pemuda yang menulis sedang membangun peradaban. Mereka sedang mencatat sejarah yang selama ini luput ditulis oleh penguasa dan kapitalis.

Literasi adalah Jalan Keadilan Sosial

‎Literasi adalah pondasi utama untuk membangun masyarakat yang adil, cerdas, dan beradab. Di tengah tantangan yang dihadapi Sumatra Barat dari kemiskinan, rendahnya akses pendidikan, hingga krisis identitas budaya, dan literasi bisa menjadi solusi strategis dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Gubernur Mahyeldi : Kegiatan Safari Ramadhan Pemprov Sumbar Tahun 2026 Akan Difokuskan ke Daerah Terdampak Bencana

‎Namun literasi tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia butuh ekosistem yang mendukung: keluarga yang peduli, sekolah yang kreatif, komunitas yang aktif, pemerintah yang hadir, dan pemuda yang berani.

‎Saat masyarakat Minangkabau kembali menghidupkan semangat menulis dan membaca, maka akan lahir generasi baru Buya Hamka, Tan Malaka, dan Haji Agus Salim di abad ini. Dan sejarah akan mencatat bahwa kebangkitan Sumatra Barat bukan dimulai dari senjata atau kekuasaan, melainkan dari sebuah buku, selembar kertas, dan semangat untuk terus belajar dan berbagi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *