Berbenah Literasi, Untuk Kebangkitan Sumatra Barat

Berbenah Literasi, Untuk Kebangkitan Sumatra Barat
120x600
a

‎Oleh: Ridwan Syafrullah 

(Sarjana Ekonomi Syari’ah IAIN Batusangkar/ Penggiat Literasi)

 

‎“Jika engkau bukan anak seorang raja, atau anak orang kaya, maka menulislah.” – Imam Al-Ghazali

‎Ungkapan bijak dari Imam Al-Ghazali ini telah lama menjadi inspirasi dan penegasan bahwa ilmu pengetahuan, termasuk melalui jalan menulis dan membaca, adalah sarana paling adil untuk meraih peradaban.

‎ Di tengah ketimpangan ekonomi dan sosial yang kian terasa, termasuk di daerah Sumatra Barat, keberadaan literasi hadir bukan hanya sebagai kegiatan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kekuatan pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan.

‎Kondisi Sosial Ekonomi dan Pendidikan di Sumatra Barat

‎Sumatra Barat dikenal sebagai tanah yang kaya akan budaya, nilai adat, dan semangat intelektual yang diwariskan oleh tokoh-tokoh besar seperti Buya Hamka, Haji Agus Salim, dan Tan Malaka. Namun, di balik identitas intelektual yang kuat, Sumatra Barat hari ini menghadapi beragam tantangan serius, terutama dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial.

‎Angka kemiskinan yang masih relatif tinggi di beberapa kabupaten/kota, kesenjangan pembangunan antara daerah pesisir dan pegunungan, terbatasnya akses pendidikan berkualitas di wilayah pelosok, hingga minimnya fasilitas membaca dan kegiatan literasi adalah sebagian kecil dari masalah yang dihadapi masyarakat Minangkabau. Berdasarkan data BPS, tingkat kemiskinan di Sumatra Barat per 2024 masih berada di atas 5%, dengan sebagian besar penduduk miskin tersebar di wilayah pedesaan. Ditambah lagi, indeks pembangunan literasi daerah (IPLD) masih tergolong rendah dibandingkan dengan beberapa provinsi lainnya.

Baca Juga :  Gubernur Mahyeldi: Program ADEM, Langkah Nyata Pemerataan Pendidikan Daerah Bagi Anak di Daerah 3 T

‎Kondisi ini diperparah dengan budaya konsumsi digital yang tinggi namun tidak diimbangi dengan peningkatan budaya baca. Anak-anak dan remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai daripada membuka buku. Fenomena ini memunculkan generasi yang ‘melek teknologi’ namun ‘buta literasi’.

‎Dalam jangka panjang, hal ini dapat melemahkan daya pikir kritis, kreativitas, dan kemandirian berpikir yang seharusnya menjadi ciri khas masyarakat Minang yang terkenal dengan falsafah “alam takambang jadi guru”.

‎Literasi Sebagai Jalan Pembebasan dan Perubahan

‎Literasi bukan sekadar membaca buku atau menulis artikel. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, mengekspresikan gagasan, serta membuat keputusan yang bijak. Literasi mencakup aspek literasi baca tulis, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya, bahkan literasi lingkungan. Dalam konteks Sumatra Barat, literasi bisa menjadi kunci utama dalam menyelesaikan berbagai problematika daerah.

Baca Juga :  Pelantikan Kepala Disdukcapil Lima Puluh Kota Menunggu Keputusan Mendagri

‎Pertama, literasi dapat menjadi solusi atas keterbatasan ekonomi. Anak-anak muda yang memiliki keterampilan menulis dan membaca yang baik akan lebih mudah mengakses pengetahuan, mengembangkan kemampuan diri, bahkan menciptakan peluang ekonomi baru. Dalam era digital, seseorang yang mahir menulis bisa menjadi content creator, penulis lepas, blogger, atau bahkan penulis buku yang hasilnya bisa menopang kehidupan ekonomi.

‎Kedua, literasi dapat menjadi benteng moral dan budaya. Dengan literasi budaya, masyarakat Sumbar dapat mempertahankan nilai-nilai luhur adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di tengah arus globalisasi. Buku-buku sejarah lokal, karya sastra Minangkabau, dan tulisan-tulisan tokoh adat bisa terus dibaca dan ditulis ulang untuk generasi mendatang. Literasi menjaga identitas.

Baca Juga :  Gubernur Mahyeldi : Kegiatan Safari Ramadhan Pemprov Sumbar Tahun 2026 Akan Difokuskan ke Daerah Terdampak Bencana

‎Ketiga, literasi menjadi jalan untuk mengatasi ketimpangan pendidikan. Dengan menggalakkan taman bacaan masyarakat (TBM), kelas literasi desa, dan pelatihan menulis kreatif di daerah terpencil, anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki akses informasi kini bisa belajar mandiri. Buku menjadi jendela dunia bagi mereka yang terpinggirkan.

‎Gerakan Literasi di Ranah Minang: Harapan dan Tantangan

‎Gerakan literasi sebenarnya bukan hal asing di Sumatra Barat. Beberapa komunitas literasi sudah lama hadir, seperti Forum Aktif Menulis (FAM), Komunitas Literasi Minangkabau, hingga rumah baca yang didirikan secara mandiri oleh pemuda-pemudi desa. Namun, tantangan terbesar dari gerakan ini adalah konsistensi dan dukungan.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *