“Ada banyak partai Islam di Indonesia, tapi hanya PDI Perjuangan yang punya masjid semewah ini,” ujarnya disambut tepuk tangan semua jamaah. Masjid At-Taufiq di depan Sekolah Partai PDI Perjuangan di Lenteng Agung dibangun megah, dengan lantai marmer kelas satu.
Kesaksian keempat, Jimly mengaku bahwa Taufiq Kiemas mewariskan ilmu yang bermanfaat kepada kemanusiaan bukan dalam bentuk ajaran kata-kata, tapi dalam bentuk keteladanan. ‘’Almarhum adalah murid ideologis Bung Karno. Dari almarhum Pak Taufiq lahir juga murid-murid ideologis seperti Dr. Ahmad Basarah, yang konsisten melaksanakan sosialisasi empat pilar ke seluruh Indonesia,’’’ ujar Anggota Dewan Pertimbangan Presiden periode 2009 – 2010 itu.

Sedangkan kesaksian kelima, Jimly menjadi saksi betapa Taufiq Kiemas sangat memikirkan kondisi Bung Karno yang saat itu belum diakui sebagai pahlawan nasional. Saat itu, undang-undang yang ada hanya mengatur tentang ‘’pahlawan proklamasi’’.
‘’Jika undang-undang buatan Soeharto ini tidak diubah, selamanya tak akan ada jalan Soekarno sebab setiap kali Soekarno disebut, pasti ada nama pasangannya, yakni Mohammad Hatta. Sejak saat itulah Pak Taufiq terus memikirkan bagaimana caranya agar negara bisa secara resmi menjadikan Bung Karno sebagaii pahlawan nasional,’’ jelas Jimly.
Hadir dalam haul ke-12 almarhum Taufiq Kiemas itu antara lain Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI, Dr. Ahmad Basarah, Wakil Ketua Umum I PP Bamusi yang juga anggota DPR RI, Nasirul Falah Amru, serta Wakil Ketua Umum II PP Bamusi, Faozan Amar, serta sejumlah besar undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Ahmad Basarah yang mewakili keluarga besar Megawati Soekarnoputri menjelaskan bahwa ciri orang saleh adalah jika setelah wafat, seseorang selalu dikenang banyak orang dan di saat ia wafat, banyak orang menangis. ‘’Itulah almarhum Pak Taufiq Kiemas yang saya kenal. Prof Jimly adalah kader Pak Taufiq, sama-sama wong kitogalo asal Palembang,’’ jelas Ahmad Basarah.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











