Namun kali ini, sang pilot berubah pendapat. Dia sodorkan komentar yang membuat pihak keamanan bandara mengangkat alis mata mereka. “Tanpa Amer Al Gaddafi di dalam pesawat, saya tak mau berangkat,” ujar sang pilot. Pada saat itu, tampaknya dia tak lagi bertumpu pada logika intelektual dan memilih bersandar pada nalar spiritual. Pihak keamanan bandara tak bisa berdebat dengan keinginan pilot, yang didukung ratusan penumpang calon jamaah haji: Amer diizinkan berangkat. Pesawat pun kembali terbang, kali ini selamat sampai mendarat di Tanah Suci.
Apa yang ditolak manusia dan sistem komputerisasi, ternyata justru diterima kekuatan suci Ilahi.
Haji selalu merupakan sekumpulan kisah dalam skala yang tak selalu bisa dicerna akal sehat, namun selalu mampu dicerna kalbu jernih. Haji pun bak cermin ikhtiar perjuangan manusia melalui 1001 cara untuk bisa menjejakkan kaki di hadapan Rumah Tuhan dalam bentuk kubus nan sederhana. Baitullah. Ka’bah. Tempat di mana tak ada lagi segregasi warna kulit, etnisitas, atau stratifikasi sosial ekonomi, kecuali kesamaan penampilan-penampakan melalui lilitan kain putih membungkus sepotong badan.
Ruben Onsu belum bisa menjejakkan kakinya di Tanah Suci musim haji tahun ini. Tapi niatnya yang mulia sudah pasti sampai ke haribaan Rabb yang Maha Mengetahui segala isi hati makhlukNya. Bahkan tanpa gelar haji di depan nama, kiprah sosial Ruben yang tak sedikit selama ini membuatnya layak diapresiasi sebagai sosok inspiratif yang gemar berbagi.
Amer Al Qaddafi tetap rendah hati dengan kisahnya yang kini menjadi buah bibir di seantero bumi. Dia tak menyebut pengalamannya sebagai sebuah keajaiban apalagi mukjizat. “Saya meyakini bahwa jika Allah sudah memanggil saya, maka Dia akan membukakan pintuNya.”
“ Labbaika allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wan-ni‘mata laka wal-mulk, la syarika lak (Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu. Aku penuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-Mu, begitu pula kerajaan milik-Mu. Tak ada sekutu bagiMu).”
Maka saat Amer melantunkan kalimat talbiyah di atas bersama jutaan umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci, sejatinya kalimat itu adalah pantulan gema kerinduan jiwa termurni dari Ruben Onsu dan jutaan muslim lainnya yang sedang menunggu kesempatan menjadi tamu undangan ke Rumah Tuhan, pada satu dan lain waktu sesuai izin dan ketetapanNya.[***]
Oleh: Akmal Nasery Basral
Respon dan tanggapan balik dapat dikirimkan ke e-mail: akmal.n.basral@gmail.com












