Usman dan The Blackstones membawakan lagu bertema lingkungan, “Hutan-hutan Asia, Amazon, dan Kongo Afrika, jangan dibiarkan sirna,” sembari menyerukan perlindungan hutan tropis dunia.
Momen ini juga menjadi peluncuran tidak resmi album terbaru mereka, “Bumi dan Aku Kini”, yang tersedia di platform digital seperti Spotify dan Apple Music. Album berbentuk piringan hitam ini memuat 9 lagu kritik sosial, dengan vokal tamu dari Once Mekel (Dewa19) dan Fajar Merah, putra almarhum penyair Wiji Thukul.
Acara ini menghadirkan dua panel diskusi dengan narasumber seperti sejarawan Ita Nadia, akademisi Wildan Sena Utama, dan diplomat I Gusti Agung Wesaka Puja. Mereka membahas relevansi KAA dalam isu HAM, perdamaian ASEAN, dan tantangan diplomasi Indonesia hari ini.
Panel kedua menampilkan Andi Widjajanto (Kepala Barak Pusat) dan perwakilan Kemlu RI, Dr. Sigit Aris Prasetyo, yang menekankan perlunya reaktualisasi semangat Bandung dalam kebijakan luar negeri Indonesia.
Usman menutup acara dengan pesan bahwa warisan KAA sebaiknya tak hanya sekedar romantisme sejarah saja.
“Warisan KAA bukan sekadar romantisme sejarah, tapi panduan untuk terus melawan ketidakadilan,” pungkasnya.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











