Ragam  

Masih Ada Gagal Paham soal Edaran Pengeras Suara di Masjid, Ini Penjelasan Kemenag

Ilustrasi pengeras suara di masjid.(Foto: Istimewa)
120x600
a

JAKARTA Otonominews.id – Kementerian Agama (Kemenag) RI kembali menegaskan perihal Surat Edaran tentag penggunaan pengeras suara di tempat ibadah, masjid dan mushalla.

Penegasan ini disampaikan Juru bicara Kemenag, Anna Hasbie, lantaran masih ada sejumlah pihak yang belum memahami substansi edaran tersebut.

Anna pun menyayangkan, pihak yang salah menafsirkan edaran Kemenag itu lantas menyampaikan ke publik bahwa Pemerintah melarang penggunaan pengeras suara dalam aktivitas keagamaan di masjid dan musalla. Padahal, kata dia, sama sekali tidak ada larangan penggunaan pengeras suara. Apalagi, masih ada yang menyebut bahwa azan dengan pengeras suara juga dilarang.

“Masih ada yang gagal paham terhadap edaran SE 05 tahun 2022, lalu menyebut ada larangan penggunaan pengeras suara. Kami harap agar edaran itu dibaca dengan seksama. Jelas tidak ada larangan, yang ada hanya pengaturan pengeras suara,” jelas Anna, dikutip dari laman resmi Kemenag, Minggu (17/3/2024)

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah menerbitkan Surat Edaran No 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Edaran ini terbit pada 18 Februari 2022.

Anna Hasbie menegaskan, tidak ada satu poin pun dalam edaran tersebut yang melarang penggunaan pengeras suara dalam beragam aktivitas keagamaan, baik di masjid dan musalla. Edaran ini, kata Anna, mengatur penggunaan pengeras suara dalam dan pengeras suara luar.

“Tidak ada larangan penggunaan pengeras suara di masjid dan musalla. Syiar Islam harus didukung. Kemenag terbitkan edaran untuk mengatur penggunaan pengeras suara dalam dan pengeras suara luar,” tegas Anna.

“Bahkan, edaran ini secara tegas menyebutkan bahwa pembacaan Al-Quran sebelum azan dan juga saat azan, dapat menggunakan pengeras suara luar,” sambungnya.

Lihat Juga :  Perbedaan Awal Puasa Ramadan, Kemenag Himbau Kedepankan Sikap Saling Menghormati

Edaran ini, lanjut Anna, disusun semata untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama dalam syiar di tengah masyarakat yang beragam, baik agama, keyakinan, latar belakang, dan lainnya. Masyarakat diimbau untuk membaca dengan teliti dan memahami edaran Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

Anna menerangkan, bahwa suara yang dipancarkan melalui pengeras suara perlu juga diatur dengan memperhatikan kualitas dan kelayakannya, suara bagus atau tidak sumbang, serta pelafalannya juga baik dan benar.

Ia menambahkan, bahwa ketentuan ini juga didukung banyak pihak, termasuk NU, Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia, dan Komisi VIII DPR.

“Ini juga bukan edaran baru, sudah ada sejak 1978 dalam bentuk Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978. Di situ juga diatur bahwa saat Ramadan, siang dan malam hari, bacaan Al-Qur’an menggunakan pengeras suara ke dalam,” pungkasnya.

r

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *