Sikapi Eskalasi Global, GMNI DKI Desak Pemerintah Berpegang pada Dasa Sila Bandung!

Otonominews
Sikapi Eskalasi Global, GMNI DKI Desak Pemerintah Berpegang pada Dasa Sila Bandung!
120x600
a

Alih-alih bergantung pada impor persenjataan, Iran mempelajari teknologi rudal yang dibelinya dari negara lain, lalu memproduksinya sendiri.

Embargo yang mestinya melumpuhkan justru mendorong Iran memutus ketergantungan dari kapitalisme internasional dan membangun kepentingan ekonominya secara leluasa.

Yang tak kalah penting, Iran berhasil menyatukan elit politik dan rakyat kecil dalam satu barisan, Sebuah soliditas nasional yang bersumber dari cinta tanah air dan meritokrasi sistem politik, di mana kepemimpinan lahir dari orang-orang berpendidikan yang benar-benar mengabdi pada negara dan bangsa.

Kedua narasumber sepakat bahwa Konferensi Asia-Afrika 1955 harus dibaca bukan sebagai artefak sejarah, melainkan sebagai taktik historis yang visioner.

Soekarno saat itu memahami bahwa rakyat Asia-Afrika tidak bisa benar-benar merdeka selama masih terjerat kemiskinan dan kebodohan, dan bahwa imperialisme, dalam esensinya, tidak akan pernah membiarkan Indonesia hidup berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan berkembang seturut kebudayaannya sendiri.

Baca Juga :  Mau Ikut Megawati Fellowship Program? Ini Syaratnya

Tujuh puluh satu tahun kemudian, logika itu masih berlaku. Di tengah perang dagang yang memukul banyak negara termasuk Indonesia dan ancaman konflik AS-Iran yang berpotensi mengguncang jalur energi dan rantai pasokan global, prinsip-prinsip Dasa Sila Bandung justru semakin relevan.

Yaitu: penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, kesetaraan antarbangsa, dan penyelesaian sengketa secara damai.

“Dasa Sila Bandung bukan warisan museum. Ia adalah panduan hidup bangsa-bangsa yang menolak dijadikan bidak dalam permainan kekuatan besar. Di tengah ancaman perang AS-Iran yang nyata, Indonesia harus tegas berdiri di atas prinsip penyelesaian sengketa secara damai, non-intervensi, dan solidaritas antarbangsa — bukan terseret ke dalam orbit kepentingan salah satu pihak yang bertikai.

Baca Juga :  Hasto PDIP Memantik Api Spirit Geopolitik Bung Karno saat Peringatan 71 Tahun KAA

Pernyataan Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Dendy Sunda Se.

Bung Dendy menegaskan bahwa posisi Indonesia tidak bisa ambigu di tengah eskalasi konflik global.

“Ketika dunia mendorong kita untuk memilih kubu, justru di situlah Dasa Sila Bandung paling relevan sebagai pengingat bahwa Indonesia memiliki identitas bangsa dan tradisi diplomatik tersendiri yang tidak bisa digadaikan demi kepentingan sesaat, atau bahkan kepentingan segelintir orang” ujarnya.

Forum ditutup dengan kesimpulan bersama yang mencakup:

1. Desakan agar pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dan independen dalam merespons eskalasi konflik AS-Iran berdasarkan prinsip Dasa Sila Bandung.

Baca Juga :  Santri dan Bung Karno: Merajut Spirit Islam, Kebangsaan, dan Kemerdekaan

2. Penolakan terhadap segala bentuk tekanan untuk memihak salah satu kekuatan besar.

3. Seruan untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas Asia-Afrika sebagai platform perjuangan negara dunia ketiga.

Antusiasme peserta yang hadir dari berbagai latar belakang menjadi penanda bahwa kesadaran publik terhadap dinamika geopolitik global dan konsistensi identitas diplomatik Indonesia semakin menguat, khususnya di kalangan generasi muda dan masyarakat sipil.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *