“Bung Karno mengkonstruksikan teori geopolitik yang progresif. Beliau memulihkan struktur ekonomi yang menghisap peninggalan kolonialisme menjadi ekonomi yang berdikari. Inilah yang harus kita jalankan hari ini agar tidak lagi bergantung pada kekuatan asing,” tegas Hasto.
Hasto juga mengapresiasi riset-riset terbaru dari kaum intelektual muda seperti Erlangga Pribadi dan peran strategis Andi Wijayanto dalam membangun kembali spirit geopolitik di Lemhannas saat ia menjabat.
Menurutnya, kerja sama antara politisi dan akademisi sangat penting untuk menghasilkan kebijakan berbasis data dan sejarah.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa Indonesia harus kembali menjadi subjek dalam hubungan internasional, bukan sekadar objek dari kepentingan global.
Kerja sama Asia-Afrika dalam Dasa Sila Bandung harus diaktualisasikan kembali untuk menghadapi ketimpangan ekonomi dan dominasi teknologi saat ini.
Kehadiran para mantan duta besar seperti I Gusti Agung Wesaka Puja dan Heri Ahmadi dalam acara tersebut juga disebut Hasto sebagai bentuk ‘pembumian’ gagasan Bung Karno dalam praktik diplomasi nyata.
Hal ini membuktikan bahwa pemikiran Soekarno tetap relevan dan memiliki otoritas moral di mata dunia.
Rangkaian acara ini akan dilanjutkan dengan sesi keynote speech dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Megawati akan memberikan pandangan strategis mengenai bagaimana Indonesia harus bersikap di tengah krisis geopolitik militer dan ekonomi yang sedang melanda dunia.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












