6 Celah Sempit untuk Efisiensi Fiskal Hingga Rp205 Triliun

Waspada Salah Hitung dan Membaca Keadaan

6 Celah Sempit untuk Efisiensi Fiskal Hingga Rp205 Triliun
120x600
a

Kedua, belanja infrastruktur melalui Kementerian PUPR. Total anggaran PUPR mencapai sekitar Rp118,5 triliun. Dengan menunda proyek non-mendesak sebesar 25–30 persen, efisiensi yang dapat dicapai berada di kisaran Rp30–40 triliun.

Ketiga, belanja pertahanan. Kementerian Pertahanan memiliki anggaran sekitar Rp187,1 triliun, termasuk sekitar Rp83,4 triliun untuk modernisasi alutsista. Dengan moratorium parsial pada belanja non-operasional sebesar 10–13 persen, penghematan Rp20–25 triliun masih dimungkinkan.

Keempat, belanja kepolisian. Anggaran Polri mencapai sekitar Rp145,1 triliun. Rasionalisasi pada pengadaan alat dan fasilitas non-esensial sebesar 10–14 persen dapat menghasilkan efisiensi Rp15–20 triliun.

Baca Juga :  Haidar Alwi Sebut Manifestasi Sumpah Pemuda dalam Sinergi Antara Polri dan Pemuda

Kelima, duplikasi program lintas kementerian. Program pelatihan vokasi, riset, dan pemberdayaan ekonomi tersebar di berbagai kementerian dengan estimasi nilai Rp150–200 triliun. Konsolidasi sebagian program dapat menghemat 10–15 persen atau Rp15–25 triliun.

Keenam, lembaga koordinatif dan badan non-produktif. Kelompok ini memiliki anggaran sekitar Rp50–70 triliun. Pemangkasan 25–40 persen dapat menghasilkan efisiensi Rp10–15 triliun.

Di luar angka, persoalan utamanya adalah sifat dari ruang efisiensi yang tersisa.

Sebelumnya, efisiensi bisa dilakukan dengan menyasar “lemak” birokrasi. Sekarang, sebagian lemak itu sudah hilang. Yang tersisa adalah otot—dan memotongnya akan terasa.

Baca Juga :  Anies Diskakmat Haidar Alwi Terkait Isu Pengangguran

Dengan kata lain, efisiensi tidak lagi sekadar soal teknis anggaran. Ia telah berubah menjadi keputusan politik yang penuh risiko.

Dalam konteks global yang tidak pasti—dengan potensi lonjakan harga energi, tekanan nilai tukar, dan kenaikan biaya utang—APBN membutuhkan bantalan fiskal. Tetapi bantalan itu tidak bisa lagi dicari dengan cara lama.

Ruang efisiensi masih ada. Namun ia tidak lagi luas, tidak lagi mudah, dan tidak lagi murah secara politik.

Jika realitas ini diabaikan, maka yang terjadi bukan sekadar kesalahan perhitungan, melainkan kesalahan membaca keadaan.

Baca Juga :  Kapolri Listyo Sigit Raih Penghargaan Bergengsi Berkat Polri Presisi, Ini Kata Haidar Alwi

Jakarta, 20 Maret 2026

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *