
Ketua Merga Silima Manado-Sulawesi Utara Salmon Tarigan menjelaskan; Kue cucur yang terbuat dari tepung beras dan gula aren ini mencerminkan kearifan lokal yang menggabungkan rasa manis dengan nilai-nilai kehidupan.
Dimana kue cucur melambangkan kedewasaan dan hadir disetiap hajatan di Tradisi Budaya Minahasa. Kue cucur saya kuat dan mengakar, makma filoshopi ini harus kita ambil dalam pembagian takjil kali ini.
Sedangkan kue Cimpa Karo adalah kue tradisional khas Suku Karo, Sumatera Utara, yang terbuat dari campuran tepung beras ketan, parutan kelapa, dan gula merah, lalu dibungkus daun singkut/pisang dan dikukus.
Kudapan ini bercita rasa manis-gurih, bertekstur legit, dan menjadi makanan wajib dalam pesta adat Karo (kerja tahun) serta simbol warisan budaya. Biasanya dibungkus dengan daun singkut (marasi) yang aromatik, yang memberikan aroma khas lebih harum daripada daun pisang.
“Kedua kue ini cimpa dan cucur memiliki bahan pembuatan yang hampir sama, dan menjadi kue khas daerah masing-masing Suku Minahasa dan Suku Karo, perpaduan ini dalam Takjil Puasa mengingat tanah kelahiran Karo dan memperkuat kebersamaan dalam budaya suku Minahasa. Selamat menjalankan ibadah puasanya bagi saudara kami semua,” kata Ketua Merga Silima Manado-Sulawesi Utara Salmon Tarigan.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











