Haidar Alwi: Kebut Pembangunan SPR untuk Antisipasi Krisis Minyak

Haidar Alwi: Kebut Pembangunan SPR untuk Antisipasi Krisis Minyak
Ir. R Haidar Alwi, MT.
120x600
a

Oleh: IR R. Haidar Alwi (pemikir bangsa/Dewan Pembina Ikutan Keluarga Alumni ITB)

PENUTUPAN Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah dipastikan menimbulkan gangguan terhadap pasokan minyak dunia. Sebagai negara yang bergantung pada impor, Indonesia berada dalam posisi yang sangat rentan.

Stok BBM Indonesia yang hanya cukup sekitar 20 hari dalam kondisi normal adalah alarm keras bagi ketahanan energi nasional. Dua puluh hari bukanlah bantalan strategis, tapi tidak lebih dari sekadar ruang napas yang sangat pendek.

Dalam sistem energi modern yang sangat bergantung pada impor dan distribusi lintas laut, rentang waktu tiga minggu membuat stabilitas ekonomi nasional mudah terguncang oleh gangguan apa pun. Mulai dari konflik geopolitik, cuaca ekstrem, gangguan pelayaran, hingga lonjakan harga global.

Baca Juga :  Haidar Alwi Respon Megawati yang Dua Kali Menyebut Kapolri

Dalam konteks inilah usulan pembangunan Cadangan Minyak Strategis Nasional atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) selama minimal 90 hari menjadi kebutuhan mendesak.

SPR 90 hari berarti Indonesia memiliki cadangan minyak mentah dan/atau BBM setara tiga bulan konsumsi nasional.

Banyak negara menetapkan standar tersebut sebagai ambang ketahanan agar negara memiliki cukup waktu untuk menstabilkan pasar domestik, mengalihkan sumber pasokan, melakukan intervensi fiskal, atau mengatur ulang distribusi tanpa kepanikan publik.

Dengan stok 20 hari, setiap gangguan langsung terasa. Dengan stok 90 hari, negara memiliki waktu untuk merespon secara terukur.

Sebagai pembanding, Amerika Serikat memiliki Strategic Petroleum Reserve yang disimpan di gua garam bawah tanah dengan kapasitas ratusan juta barel, yang dapat dilepas ke pasar ketika harga melonjak atau terjadi krisis global.

Baca Juga :  Haidar Alwi: Polri Sukses Mengamankan Demo Revisi UU Pemilu

Tiongkok membangun jaringan tangki penyimpanan raksasa di berbagai wilayah pesisir untuk menyerap minyak saat harga rendah dan menggunakannya sebagai penyangga saat terjadi gejolak.

Keberadaan cadangan tersebut bukan hanya instrumen ekonomi, tetapi juga instrumen stabilitas nasional.

Untuk Indonesia, desain SPR 90 hari perlu disusun secara bertahap dan realistis.

1. PENENTUAN JENIS CADANGAN

Indonesia dapat memilih kombinasi antara minyak mentah (crude oil) dan BBM siap pakai. Menyimpan minyak mentah memberi fleksibilitas karena dapat diolah sesuai kebutuhan kilang domestik, sementara menyimpan BBM jadi memberikan respon lebih cepat untuk menjaga distribusi.

Baca Juga :  Kapolri Raih Penghargaan Kerajaan Malaysia, Haidar Alwi: Prestasi dan Dedikasi Jenderal Sigit Diakui Dunia

Kombinasi keduanya akan memberi keseimbangan antara fleksibilitas dan kecepatan respons.

2. LOKASI DAN INFRASTRUKTUR

Fasilitas penyimpanan harus tersebar secara geografis untuk mengurangi risiko konsentrasi. Wilayah barat Indonesia dapat difokuskan pada area dekat pusat konsumsi dan pelabuhan utama, sementara wilayah tengah dan timur perlu memiliki cadangan sendiri untuk menghindari ketergantungan distribusi dari Jawa.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *