Selain itu, program Tebar Sedekah dan Wakaf Al-Qur’an dilakukan dengan verifikasi kebutuhan di lapangan serta pengiriman dai ke lokasi distribusi.
Penyaluran sembako pun dilakukan berbasis pendampingan oleh dai setempat agar bantuan tidak bersifat sesaat, melainkan menjadi bagian dari penguatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan instrumen perubahan sosial yang mampu mengurangi kesenjangan dan memperkuat solidaritas umat.
“Ramadhan adalah momentum spiritual sekaligus sosial. Melalui zakat, kita membersihkan harta dan jiwa, sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi saudara-saudara kita yang terdampak krisis,” ujarnya.
Sebagai pijakan menuju Ramadhan 1447 H, BMH mencatat capaian Ramadhan 1446 H, di antaranya penugasan 1.500 dai melalui program Sebar Dai Ramadhan, distribusi 15.158 mushaf Al-Qur’an termasuk 30 paket braille, penyaluran 273.539 paket buka puasa di dalam negeri serta bantuan untuk Palestina dan Suriah, hingga distribusi paket zakat fitrah, fidyah, dan kafarat kepada puluhan ribu mustahik.
Memasuki awal 2026, BMH juga merespons situasi kebencanaan nasional dengan meluncurkan program “Bahagia Berbagi untuk Penyintas Bencana”.
Program ini menyasar korban bencana di sejumlah wilayah Sumatera serta masyarakat terdampak konflik kemanusiaan di Palestina dan Sudan.
“Zakat harus hadir di titik-titik krisis. Kami memastikan kebutuhan dasar penyintas terpenuhi selama Ramadhan, sekaligus membangun kembali harapan mereka,” kata Imam Nawawi.
Melalui tema “Bahagia dengan Berzakat”, BMH berharap Ramadhan 1447 H menjadi momentum kebangkitan solidaritas umat. Zakat diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai instrumen keadilan sosial yang menghadirkan dampak jangka pendek dan panjang bagi masyarakat rentan.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












