Oleh: R. HAIDAR ALWI (Pemikir Bangsa/Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB)
PERNYATAAN bahwa reformasi Polri baru akan “nyata” jika disertai pergantian Kapolri datang dari Abraham Samad, seorang tokoh yang memiliki sejarah konflik serius dengan institusi kepolisian.
Fakta ini tidak dapat diabaikan ketika menilai objektivitas dan bobot argumentasinya.
Kritik yang kuat seharusnya bertumpu pada data, indikator kinerja, serta analisis kelembagaan yang menyeluruh.
Ketika reformasi Polri direduksi menjadi persoalan pergantian pucuk pimpinan, fokus pembahasan beralih dari persoalan institusi menuju persoalan personal.
Pendekatan semacam ini problematis, karena permasalahan Polri bukan tentang siapa yang menduduki jabatan Kapolri. Melainkan pada tata kelola, mekanisme pengawasan, budaya institusi, dan konsistensi penegakan hukum.
Kritik keras terhadap Polri yang tidak disertai analisis struktural lebih cenderung sebagai ekspresi kekecewaan pribadi yang belum sepenuhnya terlepas dari pengalaman masa lalu.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











