Salah satu fokus utama adalah penyelesaian akses transportasi dengan menghubungkan kawasan Ancol dan JIS melalui pembangunan jembatan sepanjang 350 meter, serta integrasi transportasi publik.
“Dengan akses parkir di Ancol dan dukungan transportasi massal, persoalan kemacetan di sekitar JIS diharapkan dapat diatasi, sehingga JIS benar-benar menjadi aset jangka panjang bagi Jakarta,” imbuhnya.
Selain itu, Gubernur Pramono menyoroti isu kemiskinan dan ketimpangan sosial sebagai tantangan utama Jakarta. Ia menyebut, meskipun terjadi penurunan tingkat kemiskinan, Pemprov DKI Jakarta tetap fokus menekan ketimpangan melalui kebijakan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu.
Menurutnya, terdapat tiga sektor yang tidak boleh dikurangi anggarannya, yakni pendidikan melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), layanan kesehatan, serta program perlindungan sosial.
Bahkan, Pemprov DKI Jakarta memperluas KJMU hingga jenjang S2 dan S3 serta menyiapkan program beasiswa luar negeri bagi warga dari keluarga tidak mampu.
“Pendidikan adalah kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, keberpihakan kepada warga yang belum beruntung harus terus dijaga,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Gubernur Pramono mengapresiasi kehadiran para ulama dan masyarakat dalam kegiatan Subuh berjamaah tersebut.
Ia berharap, kegiatan keagamaan di Balai Kota dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat spiritualitas dan kebersamaan.
“Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita semua dan semakin mempererat kebersamaan dalam membangun Jakarta yang berkeadilan,” pungkas Gubernur Pramono. (OTN-Deman,)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












