JAKARTA, OTONOMINEWS.ID – Kekhawatiran masyarakat Jakarta Utara terkait dampak buruk proyek pengelolaan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan mulai mendekati kenyataan, karena warga sekitar sudah merasakan aroma tak sedap di lingkungannya.
Pemprov DKI Jakarta sendiri berjanji akan meresmikan pengoperasian fasilitas pengolahan sampah RDF Plant Rorotan pada 20 Oktober 2025. Namun faktanya hingga saat ini belum terwujud dengan alasan teknologi yang terpasang belum rampung dari proses commisioning.
Proyek RDF Rorotan adalah proyek ambisius Pemprov DKI Jakarta yang diklaim super modern. Proyek ini pun sudah memakan biaya triliunan rupiah, dengan target dapat mengelola sampah yang terbebas dari mencemarkan limbah, termasuk tidak ada aroma bau busuk di lingkungan warga setempat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, belakangan menginstruksikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk menghentikan sementara commisioning (proses verifikasi dan pengujian seluruh fungsi peralatan) di RDF Plant Rorotan Jakarta Utara.
Alasannya, saat ini masih menunggu keberadaan truk yang lebih compact untuk mengangkut sampah. Awalnya dari air lindi (limbah cair) yang berasal dari timbunan sampah basah yang tak segera diolah. Truk pengangkut yang bocor ikut menyebarkan bau hingga ke jalan-jalan sekitar.
“Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk sementara commissioning-nya dihentikan terlebih dahulu, dipersiapkan sampai dengan adanya truk yang compact yang bisa membawa sampah ke Rorotan,” ujar Pramono, Selasa, (4/11/2025).
Ia menjelaskan, berdasarkan pendalaman yang dilakukan beberapa hari terakhir, keluhan yang disampaikan masyarakat bukan terhadap proses commisioning yang dilakukan di RDF Plant Rorotan, melainkan pada proses pengangkutan sampah yang menyebabkan adanya tumpahan air lindi (cairan sampah). Kondisi tersebut menyebabkan adanya bau yang mengganggu masyarakat sekitar.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











