Ia menilai, hal ini mencerminkan lemahnya pengawasan dan perencanaan pembangunan sarana pendidikan di Kota Bekasi.
“Sudah tiga tahun berjalan tapi belum ada progres yang signifikan, baik dari sisi pembangunan maupun pengadaan sarana-prasarana seperti mebel. Ini menjadi catatan penting bagi kami di Komisi IV,” jelasnya.
Sementara itu, Nur Abidah (15), siswi kelas IX B SMPN 62, mengaku tidak nyaman belajar di gedung tersebut. Ia menceritakan bahwa sebagian atap kelas pernah roboh ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
“Pernah atapnya tiba-tiba roboh pas kami lagi belajar. Sekarang banyak bagian yang bolong dan keropos,” kata Nur saat ditemui di lokasi.
Nur juga menyebut, saat hujan deras, air kerap masuk ke ruang kelas sehingga para siswa harus mengepel lantai agar kegiatan belajar bisa tetap berlangsung.
“Kalau hujan pasti bocor. Jadi kami harus ngepel lantai dulu biar bisa duduk,” tuturnya.
Selain atap dan dinding yang rusak, kondisi kursi dan meja di kelas juga sudah tidak layak pakai. Banyak perabotan yang diketahui merupakan barang bekas dari sekolah lain. (Advertorial)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed






