Sadarestuwati juga menyoroti perlunya petani beradaptasi dengan teknologi informasi. Jika dulu mengandalkan pranotomongso, kini petani harus melek Teknologi Informasi atau IT dan memanfaatkan data dari BMKG untuk mendukung produksi yang lebih akurat.
Dalam kesempatan itu, dia menyinggung kiprah kader PDIP yang lahir dari sawah dan kebun, seperti Surono Danu dengan varietas padi dan singkong MSP, serta Mangontang Simanjuntak yang meneliti pupuk berbasis bakteri.
“Mereka ilmuwan sejati yang tumbuh dari rahim pertanian rakyat,” ucapnya bangga.
Sadarestuwati kemudian membacakan delapan rekomendasi bidang pertanian dan pangan hasil Kongres PDIP, antara lain: diversifikasi pangan lokal, peningkatan riset bersama BRIN, perlindungan harga produsen, pencegahan alih fungsi lahan, akses pembiayaan untuk petani, hilirisasi komoditas, pembangunan infrastruktur pangan, serta penerapan bea masuk impor pangan untuk melindungi produk dalam negeri.
Dalam kesempatan itu, dia juga menyoroti kebijakan harga pemerintah yang dianggap tidak adil.
“HPP gabah ditetapkan Rp6.500, sementara HET beras Rp12.500. Dengan rendemen rendah, petani sulit memperoleh keuntungan. Mohon ini dievaluasi,” tegasnya.
Mengakhiri sambutannya, Sadarestuwati mengajak seluruh pihak untuk membangun pertanian tangguh yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Marilah kita bersama membangun pertanian yang tangguh dengan visi ramah lingkungan dan berkelanjutan guna menuju kedaulatan pangan Republik Indonesia,” tandasnya.
Dalam seminar nasional ini, turut menghadirkan sejumlah nara sumber sebagai pembicara dalam Hari Tani Nasional 2025, diantaranya, Penemu Benih MSP, Surono Daru; Sekolah Pertanian Terpadu dan Pemulia Padi MSP65, Mangontang Simanjuntak; Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Sumrambah dan Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto akan menutup seminar ini.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











