Demo DPR Terpola dan Terorganisir, Haidar Alwi Ungkap Indikasi Operasi Intelijen Asing

Demo DPR Terpola dan Terorganisir, Haidar Alwi Ungkap Indikasi Operasi Intelijen Asing
Tokoh Toleransi Indonesia, Ir. R. Haidar Alwi, MT.
120x600
a

Dari sisi ekonomi, Indonesia sedang berupaya memperkuat ketahanan pangan dan energi. Langkah ini menjadikan Indonesia semakin mandiri dan tidak terlalu bergantung pada impor dari negara-negara Barat.

Kondisi ini tentu tidak menguntungkan pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan dari dominasi perdagangan global.

“Maka dari itu, kerusuhan dapat dijadikan alat untuk menciptakan tekanan sehingga ekonomi nasional menjadi terhambat,” tutur Haidar Alwi.

Hubungan Indonesia dengan Tiongkok sering kali menjadi sasaran kritik oposisi dalam negeri, khususnya terkait isu tenaga kerja asing dan investasi besar-besaran. Kritik tersebut, bila ditunggangi oleh kepentingan asing, bisa dieksploitasi untuk membentuk persepsi negatif di masyarakat.

Baca Juga :  Haidar Alwi: Jenderal Listyo Sigit Kapolri Terbaik Sepanjang Masa

Sementara itu, kedekatan Indonesia dengan Rusia, khususnya dalam kerja sama pertahanan, juga bisa dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan Amerika Serikat.

Indonesia pernah dikritik karena pembelian alutsista dari Rusia. Washington menggunakan instrumen hukum seperti CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act) untuk menekan negara yang membeli senjata dari Rusia.

“Dengan demikian, menggoyahkan stabilitas politik Indonesia bisa menjadi cara tidak langsung untuk mengurangi kedekatan Jakarta–Moskow,” kata Haidar Alwi.

Baca Juga :  Haidar Alwi Jabarkan 7 Alasan Prabowo Tak Perlu Ganti Kapolri Jenderal Sigit

Namun, perlu ditegaskan bahwa dugaan keterlibatan asing ini tidak berarti masyarakat tidak mempunyai aspirasi nyata. Ada keluhan sosial-ekonomi yang menjadi latar belakang kerusuhan.

Akan tetapi, ketika protes rakyat ditunggangi oleh kepentingan asing, maka yang terjadi bukan lagi perjuangan aspirasi murni, namun bisa berakhir pada krisis politik-ekonomi nasional.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia perlu lebih mewaspadai narasi provokatif yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Pemerintah pun harus mampu menjaga keseimbangan diplomasi dengan semua kekuatan besar: tetap menjalin kerja sama dengan Rusia dan Tiongkok untuk memperkuat kemandirian nasional, tanpa menutup pintu hubungan konstruktif dengan Amerika Serikat.

Baca Juga :  Haidar Alwi Tegaskan Tarif Impor AS 32 Persen Memiliki Sisi Strategis bagi Indonesia

“Hanya dengan sikap non-blok modern, Indonesia dapat bertahan dari tekanan geopolitik global yang mencoba memaksakan kehendaknya terhadap Indonesia,” pungkas Haidar Alwi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *