JAKARTA, OTONOMINEWS.ID – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi menilai kerusuhan demo yang terjadi di Indonesia belakangan ini tidak bisa dipandang hanya sebagai gejolak sosial domestik semata.
Terdapat indikasi bahwa dinamika politik internasional juga mempengaruhi stabilitas nasional.
“Dugaan keterlibatan asing muncul karena pola yang terorganisir, narasi provokatif yang disebarkan melalui media sosial, serta momentum politik yang dimanfaatkan untuk mendelegitimasi pemerintahan yang sah,” kata Haidar Alwi, Jumat (29/8/2025) malam.
Sejarah menunjukkan bahwa keterlibatan asing dalam dinamika politik Indonesia bukanlah hal baru. Pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat maupun Uni Soviet pernah berusaha mempengaruhi arah politik Indonesia.
“Saat ini, dengan posisi Indonesia yang semakin strategis dalam geopolitik Indo-Pasifik, kemungkinan besar kekuatan asing juga ikut memanfaatkan kerentanan sosial-politik di dalam negeri untuk kepentingan global mereka,” ujar Haidar Alwi.
Indonesia kini menjalin hubungan erat dengan Rusia dan Tiongkok, terutama dalam bidang pertahanan, energi, serta investasi infrastruktur. Tiongkok misalnya terlibat dalam proyek strategis nasional seperti kereta cepat, pembangunan pelabuhan, dan industri teknologi.
Rusia juga mempererat kerja sama dalam bidang militer dan energi. Hal itu membuat Indonesia semakin dekat dengan blok Eurasia yang dipimpin oleh Beijing dan Moskow.
Kedekatan tersebut secara alami menimbulkan resistensi dari Amerika Serikat. Washington selama ini berusaha menjaga pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara sebagai bagian dari strategi Indo-Pasifik.
Indonesia yang semakin condong memperkuat hubungan dengan Rusia dan Tiongkok dipandang sebagai tantangan terhadap dominasi AS di kawasan.
“Oleh karena itu, sangat mungkin ada upaya dari pihak tertentu yang berhubungan dengan kepentingan AS untuk menggoyahkan stabilitas Indonesia,” ungkap Haidar Alwi.
Menurutnya, kerusuhan yang terkesan sporadis namun terkoordinasi dapat dilihat sebagai bentuk konflik proxy , di mana kekuatan asing tidak menyerang secara langsung tetapi memanfaatkan aktor-aktor domestik untuk menyerang lawan.
“Pola ini mirip dengan yang terjadi di beberapa negara lain, seperti “Arab Spring” di Timur Tengah, yang diintensifkan sebagai pintu masuk intervensi asing,” jelas Haidar Alwi.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed









