Haidar Alwi Tawarkan 5 Jalan Damai salam Konflik Ambon 2025

Perlo sosial Kapolri Jenderal Sigit dan Sufmi Dasco sebagai penyejuk.

Haidar Alwi Tawarkan 5 Jalan Damai salam Konflik Ambon 2025
Ir. R Haidar Alwi, MT
120x600
a

Belajar dari Luka Sejarah.

Konflik Ambon 1999–2004 pernah menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di negeri ini, menelan ribuan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu orang mengungsi.

Luka itu begitu dalam, tetapi bangsa ini terlalu cepat menutup lembaran seolah semua telah selesai. Padahal, bekas luka tetap membekas dalam ingatan kolektif masyarakat Maluku.

Haidar Alwi menilai, bentrokan 2025 adalah bukti nyata bahwa pekerjaan rumah bangsa belum tuntas. Perdamaian tidak cukup dijaga oleh aparat, tetapi harus dipelihara oleh kesadaran bersama.

Di tengah arus globalisasi dan derasnya informasi, bangsa Indonesia harus semakin dewasa membaca perbedaan.

“Bangsa yang besar bukanlah bangsa tanpa konflik, melainkan bangsa yang mampu mengelola konflik menjadi energi persaudaraan,” jelas Haidar Alwi.

Haidar Alwi mengingatkan, kebhinnekaan adalah kekuatan yang hanya akan bermakna jika diikat dengan rasa percaya. Jika rasa percaya hilang, keberagaman bisa berubah menjadi jurang perpecahan.

Karena itu, Haidar Alwi mendorong agar negara membangun mekanisme permanen: pendidikan toleransi di sekolah, forum lintas agama yang aktif, hingga program ekonomi inklusif yang membuat masyarakat merasa senasib sepenanggungan.*

Baca Juga :  Haidar Alwi Bongkar Kunci Menjinakkan Korupsi dan Menggerakkan Ekonomi di Era Prabowo

Optimisme Nasional di Era Prabowo.

Menurut Haidar Alwi, konflik Ambon 2025 harus dibaca sebagai ujian kepemimpinan nasional.

Presiden Prabowo Subianto dikenal tegas, dan ketegasan itu kini diperlukan untuk memastikan negara hadir melindungi rakyat. Namun, ketegasan harus disertai keterbukaan, keberanian mendengar, dan komitmen menjaga rasa aman semua warga.

Di ranah keamanan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjukkan arti Polri Presisi: cepat, tepat, dan humanis. Pengerahan ratusan aparat gabungan TNI Polri yang segera mengendalikan situasi di Ambon menjadi bukti nyata bahwa negara hadir melindungi setiap warga tanpa membedakan latar belakangnya.

Haidar Alwi menilai, inilah wajah baru kepolisian yang tidak hanya hadir dengan ketegasan, tetapi juga dengan rasa kemanusiaan yang kuat.

Lebih jauh, Haidar Alwi menegaskan pentingnya optimisme di balik kepemimpinan Kapolri saat ini.

Ia percaya, di bawah kendali Jenderal Listyo Sigit Prabowo, bangsa ini tidak akan lagi jatuh pada spiral konflik berdarah seperti yang pernah terjadi di Maluku pada tahun 1999–2004.

Baca Juga :  Haidar Alwi Ajak Semua Pihak Gotong Royong Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

“Polri hari ini hadir dengan wajah yang lebih modern, humanis, dan dekat dengan rakyat,” jelas Haidar Alwi.

Itulah sebabnya, menurut Haidar Alwi Institute, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo layak disebut sebagai Kapolri terbaik sepanjang masa, karena mampu menghadirkan optimisme baru bahwa keamanan Indonesia dapat dijaga dengan tegas sekaligus berkeadilan.

Sementara itu, Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, dipandang Haidar Alwi sebagai sosok yang konsisten menghadirkan kesejukan di tengah dinamika politik.

Bukan sekali dua kali ia menunjukkan kepiawaiannya meredam ketegangan tanpa meninggalkan ruang dialog.

Kehadirannya menjadi bukti bahwa politik tidak selalu harus keras, melainkan bisa dijalankan dengan ketenangan, komunikasi, dan kearifan.

Bagi Haidar Alwi, peran Dasco kini semakin relevan. Di saat masyarakat Maluku membutuhkan ketenangan, parlemen harus berdiri sebagai pilar penopang rekonsiliasi sosial dan pemulihan persaudaraan.

Baca Juga :  Melihat Peranan Polri: Dilupkan dalam Keberhasilan, Jadi Tameng Atas Kegagalan

Kehadiran figur penyejuk seperti Dasco memastikan bahwa perdamaian tidak hanya menjadi agenda aparat keamanan dan pemerintah eksekutif, melainkan juga mendapat dukungan penuh dari lembaga legislatif.

Dengan demikian, kepercayaan publik dapat dijaga dan proses pemulihan berjalan lebih menyeluruh.

“Dalam situasi sosial yang rentan, bangsa ini membutuhkan sosok penyejuk seperti Dasco, agar rekonsiliasi sosial benar-benar bermuara pada pemulihan persaudaraan.”

“Konflik Ambon 2025 tidak boleh menjadi spiral baru. Ia harus menjadi titik balik untuk memperkuat persaudaraan dan menghindarkan bangsa ini dari jebakan sejarah,” pungkas Haidar Alwi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *