“Kita membutuhkan ukuran kemiskinan yang lebih progresif, agar intervensi kebijakan benar-benar menjangkau kelompok miskin yang nyata, bukan yang disederhanakan oleh angka,” tambahnya.
Shofie menyebut, target nol persen kemiskinan ekstrem pada 2029 adalah bentuk “target gagah yang kosong”, karena dirancang agar mudah dicapai, bukan untuk benar-benar menyelesaikan akar kemiskinan.
“Pemerintah menciptakan target yang terlihat heroik, tetapi pada dasarnya hanya mengandalkan standar minimal. Ini manipulatif secara politik,” ujar Shofie.
Ia menilai penggunaan indikator sempit ini bisa menciptakan ilusi keberhasilan sambil mengabaikan realitas puluhan juta rakyat miskin yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan ekstrem.
Menurutnya, kebijakan pengentasan kemiskinan seharusnya mendorong reformasi struktural dan distribusi kesejahteraan yang lebih adil.
“Jika kita benar-benar ingin menghapus kemiskinan ekstrem, maka target 0 persen harus didasarkan pada garis US$ 3,00 PPP per kapita per hari, bukan yang lebih rendah,” katanya.
Dengan standar yang lebih tinggi tersebut, Shofie menilai strategi pertumbuhan ekonomi juga akan terdorong untuk lebih inklusif dan berpihak pada rakyat bawah.
“Kita hanya bisa memberi apresiasi pada target nol persen jika didasarkan pada ukuran yang realistis dan bermakna,” pungkasnya.[zul]
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












