JAKARTA, OTONOMINEWS.ID – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengatakan lokasi yang akan dibebaskan merupakan lokasi tidak layak dihuni karena rawan banjir.
Pemprov DKI pun mencium gelagat para mafia yang mencari celah untuk menjual tanah ke Pemprov dengan basis data dari Penetapan Lokasi Pembangunan (Penlok) yang terpetakan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Komunikolog Politik & Hukum Nasional, Tamil Selvan meminta kepada Pramono Anung yang biasa disapa Pram agar waspada. Sebab, penlok menjadi pintu masuk para mafia tanah di Jakarta.
“Pram dalam kondisi sulit soal penanganan banjir. Penlok pintu masuk mafia tanah untuk bermain dengan dinas terkait, tapi Pram harus menuntaskan banjir jadi mau tidak mau dia teken itu,” Katanya kepada wartawan, Rabu (9/7/2025).
Tamil meminta kepada Pram untuk mengawasi ketat proses pembebasan lahan hingga pembayaran. Karena jika lengah bisa bocor.
“Dia (Pramono), harus gandeng BPK, Kejaksaan dan KPK untuk mengawasi pembayaran lahan,” bebernya.
Para mafia tanah menurut Tamil memakai modus dengan menjaring para ahli waris. Dari ahli waris itulah para mafia bekerjasama dengan dinas atau pejabat hingga DPRD agar tanah tersebut dibebaskan.
“Atas namanya tetap ahli waris tapi buku rekening ahli waris dipegang mafia. Usai pembayaran, barulah mafia membagi jatah kepada ahli waris, oknum dan lain-lain,” terang Tamil.
Diketahui, pelebaran Sungai Ciliwung membutuhkan lahan sekitar 11,8 kilometer. Pembebasan lahan ini dinilai akan mengurangi banjir Jakarta sekitar 40 persen.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












