Mencegah Tragedi, Menyelamatkan Nyawa Petani.
Di balik kegiatan gropyokan itu, tersimpan tragedi yang sering luput dari perhatian nasional: banyak petani yang tewas karena tersengat jebakan listrik buatan sendiri untuk menangkap tikus. Di Grobogan, nyaris setiap tahun tercatat korban jiwa akibat kawat listrik yang dipasang mengelilingi sawah.
Inilah yang coba dicegah oleh Polri. Dalam kegiatan gropyokan, aparat tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk tidak lagi menggunakan jebakan listrik yang mematikan. Mereka membawa pesan keselamatan dan pendekatan hukum yang humanis.
“Ketika polisi bilang: ‘jangan pakai jebakan listrik, kami bantu cara yang lebih aman’, itu bukan sekadar sosialisasi. Itu penyelamatan nyawa. Dan itu adalah wajah Bhayangkara sejati,” tegas Haidar Alwi.
Ia menilai, langkah edukatif semacam ini jauh lebih membekas ketimbang tindakan represif. Petani merasa ditemani, bukan ditakuti. Dan di situlah, kata Haidar, terletak kekuatan moral dari polisi yang sadar perannya sebagai pelindung masyarakat dalam arti yang utuh.
*Hari Bhayangkara: Refleksi Presisi yang Nyata di Sawah.*
Memperingati Hari Bhayangkara ke-79, Haidar Alwi mengajak semua pihak untuk menengok ke bawah: ke desa, ke lumpur sawah, ke tempat di mana polisi bekerja dalam senyap tanpa sorotan media. Di sanalah, katanya, kita bisa melihat wajah Polri yang sesungguhnya. Wajah yang dekat dengan rakyat.
Ia menyambut baik arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam mewujudkan Polri Presisi yang responsif, prediktif, dan transparan. Gropyokan tikus bersama petani, menurutnya, adalah perwujudan paling jujur dari Presisi itu sendiri: polisi hadir, bekerja, dan berdampak langsung tanpa menunggu headline.
Tak bisa dipungkiri, arah kebijakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah membuka ruang baru bagi Polri untuk lebih dekat dan menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, kepolisian tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat prosedural semata, tetapi diarahkan untuk menjadi bagian dari solusi nyata atas persoalan rakyat. Pendekatan humanis dan kolaboratif yang beliau dorong memungkinkan polisi di desa untuk bertindak luwes, progresif, dan berpihak pada kehidupan warga, seperti yang terlihat dalam aksi-aksi gropyokan di Grobogan. Ini bukan semata keberhasilan struktural, melainkan keberanian untuk merombak cara pandang institusi terhadap fungsi pengabdian.
*“Bhayangkara modern bukan hanya tahu pasal hukum, tapi tahu kondisi petani di musim tanam. Polisi bukan hanya paham tentang penindakan, tapi juga tentang penyelamatan panen dan kehidupan. Itulah polisi yang layak diteladani, bukan hanya ditonton,” pungkas Haidar Alwi.*
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed









