LIMAPULUH KOTA, OTONOMINEWS.ID – Anggota Komisi VI DPR RI, Hj. Nevi Zuairina, menegaskan pentingnya penguatan literasi keuangan untuk melindungi masyarakat dari ancaman kejahatan finansial digital sekaligus mendorong kemandirian ekonomi daerah. Pesan krusial ini disampaikannya dalam agenda sosialisasi bertajuk “Penguatan Literasi Finansial Masyarakat Melalui Perencanaan Keuangan dan Investasi Sejak Dini” di Kabupaten Limapuluh Kota, Sabtu (28/3).
Acara yang berlangsung dengan antusiasme tinggi ini turut dihadiri oleh Kepala Cabang Bank Mandiri Payakumbuh, Ibu Chelsea, beserta jajaran timnya, sebagai bentuk kolaborasi nyata antara legislatif dan sektor perbankan dalam mengedukasi masyarakat.
Dalam sambutannya, Hj. Nevi Zuairina menyoroti kemudahan akses layanan keuangan digital yang ibarat pisau bermata dua. Ia memaparkan data faktual dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 yang dirilis OJK dan BPS, di mana indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 80,51%, namun indeks literasi baru menyentuh angka 66,46%.
“Ada celah sekitar 14% masyarakat yang sudah menggunakan produk keuangan tetapi tidak paham sepenuhnya akan manfaat, biaya, dan risikonya. Kondisi inilah yang menjadi pintu masuk bagi jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal, kerugian akibat investasi bodong, hingga tingginya transaksi judi online yang merusak struktur ekonomi keluarga,” tegas Nevi.
Lebih lanjut, legislator ini mematahkan stigma bahwa investasi hanya milik masyarakat perkotaan atau berpenghasilan tinggi. Merujuk pada data KSEI per akhir Desember 2025, jumlah investor pasar modal telah melonjak 37% menjadi 20,32 juta SID yang didominasi oleh investor ritel dan generasi muda.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












