Pertama, mempercepat cuti Lebaran akan membuat sebagian aktivitas ekonomi dan perkantoran berhenti lebih awal, sehingga mobilitas harian pekerja menurun lebih cepat.
Kedua, memperpanjang masa cuti akan memperlambat kembalinya mobilitas kerja normal setelah Lebaran. Dengan demikian, konsumsi BBM dapat ditekan lebih lama selama periode rawan gangguan pasokan energi.
Strategi ini pernah digunakan pemerintah untuk mengatur arus mudik agar tidak terjadi penumpukan kendaraan. Namun dalam konteks krisis energi, tujuannya bukan hanya mengurai kemacetan, tetapi juga menekan konsumsi BBM nasional.
Kebijakan Cepat Tanpa Investasi Infrastruktur
Keunggulan dari kombinasi kebijakan WFH dan cuti Lebaran adalah sifatnya yang dapat diterapkan sangat cepat tanpa membutuhkan investasi infrastruktur baru.
Pemerintah hanya perlu mengeluarkan kebijakan yang mengatur:
– Penerapan WFH bagi ASN dan pegawai sektor swasta non-vital
– Operasional normal untuk sektor vital seperti energi, kesehatan, logistik, transportasi, keamanan, dan pelayanan publik
– Percepatan dan perpanjangan cuti bersama Lebaran untuk mengurangi mobilitas kerja
Dengan kebijakan ini, konsumsi BBM nasional berpotensi turun dalam waktu singkat karena berkurangnya mobilitas jutaan pekerja.
Menekan Risiko Panic Buying BBM
Dalam situasi krisis energi, kepanikan masyarakat sering kali dipicu oleh lonjakan permintaan mendadak, bukan semata karena kelangkaan pasokan.
Jika mobilitas tetap tinggi sementara pasokan BBM terganggu, antrean panjang di SPBU bisa menjadi pemandangan yang sulit dihindari.
Dengan menurunkan mobilitas melalui WFH dan cuti panjang, tekanan terhadap distribusi BBM dapat dikurangi. Hal ini membantu menjaga stabilitas pasokan dan mencegah kepanikan masyarakat.
Kebijakan Sementara di Masa Darurat Energi
Memang tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah. Beberapa sektor tetap membutuhkan kehadiran fisik di tempat kerja. Selain itu, sektor informal dan usaha kecil di sekitar kawasan perkantoran juga bisa terdampak.
Karena itu, kebijakan ini sebaiknya diposisikan sebagai langkah sementara selama periode krisis energi, bukan sebagai perubahan permanen dalam sistem kerja nasional.
Namun dalam situasi ketidakpastian pasokan minyak global, pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai opsi yang dapat segera diterapkan.
Dalam konteks ini, WFH yang dipadukan dengan percepatan dan perpanjangan cuti Lebaran dapat menjadi salah satu strategi darurat paling realistis untuk menghemat BBM nasional.
Kebijakan sederhana ini berpotensi mengurangi mobilitas jutaan kendaraan setiap hari—sebuah langkah yang sangat berarti ketika pasokan energi sedang berada di bawah tekanan.
Jakarta, 6 Maret 2026
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed









