“Pangan olahan tidak seharusnya dipandang negatif hanya karena melalui proses. Yang menentukan kualitasnya adalah komposisi, pengawasan, dan kesesuaian dengan kebutuhan gizi. Oleh karena itu, istilah yang digunakan dalam komunikasi publik harus lebih tepat dan tidak menimbulkan stigma,” ungkap Sri.
Forum juga menegaskan bahwa pemanfaatan pangan olahan tetap dapat menjadi solusi dalam penyediaan gizi yang aman dan terjangkau, selama diformulasikan dan diawasi secara ketat.
Ke depan, hasil FGD ini akan menjadi bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dan materi edukasi publik guna memperkuat literasi gizi masyarakat serta mendukung keberhasilan program MBG secara berkelanjutan.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












