JAKARTA, OTONOMINEWS.ID | Seorang pemuda petualang dari Saung Reptile Indonesia, Erdipriyai, membuat inovasi penting bagi dunia medis.
Ia menemukan fakta, bahwa toxin atau bisa ular ternyata dapat diubah menjadi obat penawar racun, bahkan bisa menjadi resep mujarab untuk memperlambat penuaan agar awet muda.
Penemuan Erdipriyai ini lahir berkat hobinya berpetualang dan berkecimpung dengan hewan-hewan reptil, termasuk ular.
Jika banyak orang menganggap bisa ular sebagai sesuatu yang berbahaya, maka bagi Erdipriyai sebaliknya, justru bisa ular adalah berkah yang banyak manfaatnya.
“Banyak orang memandang bisa ular dengan cara pandang yang berbeda. Nah, kalau saya pribadi merasakan adanya kegunaan pada racun-racun tersebut,” kata Erdi dalam catatannya kepada awak media.
Erdipriyai menjelaskan, hampir setiap ular berbisa memiliki komponen enzin proteolik pada kandungan bisanya. Enzim ini memecah protein yang dapat membantu pencernaan dan membuat kerusakan pada jaringan.
Menurut Erdipriyai, saat ini sudah ada obat penawar racun bisa ular atau yang biasa disebut serum anti bisa ular (SABU). Pembuatan SABU ini diracik dari bahan-bahan yang berasal dari bisa ular itu sendiri.
“Sudah ada penelitian di Universitas Kopenhagen Denmark tentang pembuatan SABU,” kata Erdipriyai.
Dalam penelitian dan proses pembuatan Serum Anti Bisa Ular tersebut, para peneliti menggunakan ular viper yang diambil racunnya untuk disuntikan pada hewan lain, yaitu kuda.
Peneliti sengaja menjadikan kuda sebagai hewan percobaan karena memiliki imun yang kuat sehingga dapat bertahan dalam lethal dosis yang sudah di tentukan.
Dalam penelitian itu, racun (bisa) ular disuntikkan kepada kuda dan ditunggu sampai setengah bulan (15 hari), setelah itu diambillah darah plasma yang ada pada kuda tersebut untuk dijadikan SABU.
“Saya memandang sifat toxin (bisa) berbeda dibanding pandangan orang pada umumnya. Saya memandangnya sebagai obat masa depan yang dapat menolong ribuan orang,” ungkap Erdipriyai.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












