Bhakti Polri Terus Bergerak Meski Diterjang Badai Delegitimasi

Otonominews
Bhakti Polri Terus Bergerak Meski Diterjang Badai Delegitimasi
120x600
a

Oleh: R. HAIDAR ALWI (Pemikir Bangsa/Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB)

SAAT air bah menggulung pemukiman, memutus akses jalan, listrik dan komunikasi, serta mengguncang sendi-sendi kehidupan di berbagai sudut Sumatera, negara diuji bukan dengan pidato-pidato, melainkan oleh kehadiran nyata di tengah-tengah rakyat.

Pada momen-momen paling gelap itulah Bhakti Polri terlihat jelas, aparat yang datang lebih dulu, tinggal lebih lama, dan pulang paling akhir dari lokasi bencana.

Baca Juga :  Romo Paulus Kristian Seswantoko: Apresiasi Setinggi-tingginya kepada Polri dan TNI atas Dedikasi Nataru

Di tengah badai delegitimasi yang terus menghantam institusi kepolisian di ruang publik, ironi besar justru tersaji di lapangan.

Ketika Polri diperdebatkan, dicurigai, diragukan, bahkan dirusak citranya, anggotanya justru menembus hujan dan lumpur untuk mengevakuasi warga, menggendong anak-anak keluar dari rumah yang nyaris runtuh, dan memastikan orang tua tidak tertinggal dalam ketakutan.

Tidak ada kamera besar, tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya kelelahan dan panggilan kemanusiaan.

Baca Juga :  Haidar Alwi Ungkap Peran Strategis Polri Wujudkan Ketahanan Pangan

Bagi korban bencana, polisi bukanlah objek polemik. Mereka adalah orang pertama yang mengetuk pintu di tengah malam, suara yang menenangkan setelah air bah datang, dan tangan yang membantu membagi makanan ketika dapur tak lagi menyala.

Di pengungsian, aparat kepolisian ikut menjaga agar bantuan tidak diperebutkan, agar yang lemah tidak terpinggirkan, dan agar rasa aman tetap hidup meski semuanya terasa runtuh.

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *