Energi: 70% listrik dari energi terbarukan sebelum 2040; PLTS atap dan panas bumi menjadi tulang punggung.
Data: Semua data warga, bisnis, dan pemerintah disimpan di Sovereign Cloud dalam negeri; aturan data dividend memberi keuntungan langsung ke rakyat.
Kedaulatan di tiga sektor ini membuat kita kuat menghadapi guncangan global.
5. Reformasi Tata Kelola: Meritokrasi dan Antikorupsi Sistemik
P: Banyak yang skeptis meritokrasi bisa jalan di Indonesia. Bagaimana membuktikan itu salah?
Presiden: Kami memulai dari hal yang paling sulit: menghapus “jalan belakang” dalam rekrutmen jabatan strategis. Semua pejabat tinggi negara, direksi BUMN, dan pimpinan lembaga publik dipilih lewat seleksi terbuka berbasis kompetensi, diawasi Dewan Meritokrasi Nasional independen.
Kami juga membuat sistem scorecard publik: kinerja tiap pejabat diumumkan setiap tahun. Korupsi diberantas dengan continuous transaction auditing berbasis AI, blacklist korporasi pelanggar, dan larangan “revolving door” pejabat ke industri yang diawasinya, yaitu pejabat yang merangkap jadi pengusaha atau sebaliknya.
6. Reformasi Fiskal dan Ekonomi Inklusif
P: Bagaimana mengelola anggaran negara sehingga efektif dan adil?
Presiden: Kami menetapkan Golden Rule: utang hanya untuk investasi produktif, bukan belanja rutin. Subsidi diarahkan tepat sasaran dengan teknologi digital ID dan social registry terintegrasi. Pajak karbon, pajak properti progresif, dan land value capture menjadi sumber baru APBN.
Transfer fiskal ke daerah berbasis kinerja: daerah yang berhasil menurunkan kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, atau menjaga lingkungan mendapat insentif lebih besar.
7. Mengubah Budaya Politik
P: Banyak orang menganggap budaya politik kita terlalu transaksional. Bagaimana mengubahnya?
Presiden: Butuh kombinasi regulasi dan teladan. Kami membatasi biaya kampanye dengan plafon ketat, memperketat aturan dana politik, dan mengawasi real time. Di sisi lain, partai politik diwajibkan memiliki school of governance untuk kaderisasi berbasis kompetensi, bukan uang.
8. Mengintegrasikan 8 Anugerah Indonesia
P: Strategi besar apa yang mengaitkan semua potensi unggulan bangsa?
Presiden: Kami membuat Peta Jalan Anugerah Indonesia—menghubungkan potensi maritim, biodiversitas, energi terbarukan, mineral kritis, agroklimat tropis, bonus demografi, warisan budaya, dan posisi geostrategis. Semua kebijakan ekonomi, pendidikan, dan diplomasi diarahkan untuk memonetisasi modal ini dengan cara berkelanjutan dan adil.
9. Diplomasi Aktif dan Peran Global
P: Indonesia kini dikenal sebagai “Poros Etika Dunia”. Apa maksudnya?
Presiden: Kita memilih menjadi jembatan, bukan sekadar penonton, dalam konflik global. Kita memimpin mediasi di isu iklim, perdagangan berkeadilan, dan tata kelola AI. Poros Etika Dunia artinya kita mengambil posisi moral yang jelas—memihak pada kemanusiaan, bukan blok kekuatan semata.
10. Menjaga Keberlanjutan Perubahan
P: Banyak kebijakan bagus kandas saat ganti presiden. Bagaimana menghindari itu?
Presiden: Ada tiga kunci: Konsensus hukum yang mengikat strategi jangka panjang.
Partisipasi publik dalam perencanaan, sehingga rakyat ikut mengawasi.
Penguatan institusi agar kebijakan dijalankan oleh sistem, bukan hanya figur.
Penutup: Pesan untuk Generasi Berikutnya
P: Apa pesan terakhir Bapak untuk generasi muda 2045 dan seterusnya?
Presiden: Jangan pernah puas hanya dengan “bebas”. Kemerdekaan sejati adalah kemampuan menentukan nasib sendiri dengan martabat, kecerdasan, dan keadilan. Bangsa yang besar bukan hanya karena kekayaan alamnya, tetapi karena rakyatnya mampu mengelola, memelihara, dan mewariskan peradaban yang lebih tinggi pada generasi berikutnya.
Kalau ada satu pelajaran terbesar dari perjalanan ini, itu adalah: kita menang bukan karena mengalahkan orang lain, tetapi karena mengalahkan kelemahan kita sendiri. Dan sebagaimana telah dirumuskan 100 tahun yang lalu, semua itu terjadi atas Rahmat dari Allah SWT. Terima kasih
(Rahmat Mulyana, 16 Agustus 2025 – Jelang Perayaan 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed






