Ragam  

Dari Mahzani ke Kolintang: Kiprah Armando Loho Merawat Identitas Minahasa di Era Digital

Otonominews
Dari Mahzani ke Kolintang: Kiprah Armando Loho Merawat Identitas Minahasa di Era Digital
120x600
a

TOMOHON.OTONOMINEWS.ID – Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menggerus akar kultural suatu bangsa, nama Robby Alfred Armando Loho, S.Kom, M.Kom—lebih dikenal sebagai Armando Loho—muncul sebagai penjaga denyut budaya Minahasa. Melalui lensa kamera, jejak digital, dan napas tradisi lisan, Armando menghadirkan narasi yang utuh tentang warisan leluhur yang tak lekang oleh zaman.

Melalui media sosial, khususnya Facebook: Armando Loho, ia secara konsisten membagikan karya-karya pelestarian budaya Minahasa yang menjangkau khalayak luas, menjadikan platform digital sebagai ruang edukasi dan apresiasi budaya.

Sebagai fotografer, videografer, pendidik, dan budayawan, Armando tidak sekadar mendokumentasikan. Ia membangun ekosistem pelestarian budaya yang hidup—membaur antara estetika, edukasi, dan aksi nyata. Lima simpul utama budaya Minahasa menjadi medan pengabdiannya: Mahzani, Kawasaran, cerita rakyat berbahasa Tombulu, tari Maengket, dan musik tradisi kolintang.

Mahzani, seni tutur tradisional dalam bentuk puisi lisan berirama, diangkatnya dari batas-batas kelupaan. Bersama para maestro, ia mengarsipkan, menerjemahkan, dan mendistribusikannya sebagai bahan ajar yang menghidupkan kembali narasi lisan yang nyaris punah. Dalam Mahzani, tersimpan etika, sejarah, dan perenungan masyarakat Minahasa yang tak tergantikan oleh teks formal.

Tari perang Kawasaran pun tak luput dari sorotan lensanya. Lebih dari sekadar atraksi visual, Kawasaran ditelusurinya dari akar—menyelami filosofi dan ritualnya. Gerakan tegas para penari, warna merah menyala dalam kostum, serta keteguhan identitas leluhur menjadi rangkaian pesan yang diangkat Armando dalam dokumenter berbasis riset dan narasi lokal.

Sementara itu, bahasa Tombulu—salah satu dialek penting di Minahasa—dihidupkan kembali melalui cerita rakyat. Ia merekam suara para tetua, mengolahnya dalam format video berteks, dan menyajikannya sebagai pustaka daring yang ramah bagi generasi muda. Bagi Armando, bahasa adalah nyawa kebudayaan; saat ia lenyap, maka identitas ikut padam.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *