Riezky Aprilia Tak Tahu Pramono Anung Pernah Digantikan Eva Sundari, Patra: Saksi Harusnya Belajar Organisasi Partai

Otonominews
Riezky Aprilia Tak Tahu Pramono Anung Pernah Digantikan Eva Sundari, Patra: Saksi Harusnya Belajar Organisasi Partai
120x600
a

“Sekarang saya tanya faktanya. Kalau saudara tahu, jawab tahu. Kalau saudara tidak tahu, jawab saja tegas tidak tahu. Saudara saksi. Apakah saudara saksi tahu. Namanya Eva Sundari pernah menggantikan Pramono Anung pada tahun 2016, meskipun bukan suara terbanyak, karena ada kepentingan partai. Tahu nggak saudara?” tanya Patra.

“Tidak tahu,” jawab Riezky.

“Saudara saksi tahu nggak bahwa pada tahun 2015, ketika Pak Djarot Saiful Hidayat terpilih sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, penggantinya juga bukan suara terbanyak berikutnya? Dengan cara mengundurkan diri, tahu nggak?” kata Patra.

“Tidak tahu,” jawabnya lagi.

“Sekarang saya tanya lagi yang ketiga. Kalau tidak tahu juga, saya tidak lanjutkan. Ketika Pak Baskami Ginting meninggal dunia, penggantinya juga bukan suara terbanyak berikutnya, tahu nggak?” Tanya Patra.

Baca Juga :  Sekretariat DPP PDIP Rayakan 9 Tahun Jalankan Manajemen Modern Berstandar ISO

“Tidak tahu,” jawab Riezky.

Patra pun menegaskan, bahwa semua keputusan terkait pergantian Caleg terpilih merupakan kewenangan DPP PDI Perjuangan, bukan atas dasar pribadi Hasto Kristiyanto.
“Saudara saksi masih belajar lagi di partai,” ujar Patra.

Sebelumnya, Riezky Aprilia menangis saat menceritakan dirinya diminta mundur sebagai calon anggota legislatif (caleg) terpilih di Dapil I Sumatra Selatan (Sumsel) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Peristiwa ini terjadi saat Riezky dihadirkan sebagai saksi dalam kasus yang menjerat Hasto Kristiyanto di Pengadilan Tipikor Jakarta. Riezky mengatakan, pada 27 September 2019, bertepatan dengan acara di DPP PDIP, ia bertemu Hasto dan mempertanyakan undangan pelantikannya sebagai caleg terpilih.

Baca Juga :  Hari Anak Nasional 2025, DPP PDIP Lakukan Kunjungan ke RS dan LPKA Kelas 1 Tangerang

“Terjadi dialog pada saat itu, bahwa saya akan diberikan undangan apabila saya bersedia mundur,” kata Riezky.

“Saya mempertanyakan alasannya apa, apa alasan saya disuruh mundur pada saat itu karena saya juga kader partai, saya bekerja buat partai ini juga,” ujar Riezky sambil menangis.

Dia pun mengaku saat itu sudah merasa emosi dan lelah karena terus dihadapkan dengan persoalan tersebut. Pada saat yang bersamaan, kata dia, Hasto juga lelah dan akhirnya menyatakan bahwa ia diminta mengundurkan diri atas perintah partai.

Baca Juga :  Bacakan Eksepsi Setebal 155 Halaman, Hasto dan Tim Hukum Lawan Pembungkaman Politik

“Ini mohon maaf kalau saya agak mencoba mengingat, saya bilang, saya akan mundur apabila saya mendengar langsung dari ibu ketua umum pada saat itu,” kata Riezky.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *