JAKARTA, OTONOMINEWS.ID |Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Demokrat, Desie Christhyana Sari memaparkan pandangan-pandangan dan buah pemikirannya tentang politik dan isu gender di Indonesia.
Wanita berparas ayu itu juga menjelaskan soal tantangan dan motivasi bagi kalangan Perempuan untuk berani tampil, berkiprah di kancah politik. Perempuan akan memperluas manfaat dan eksistensinya untuk masyarakat banyak.
Bertepatan dengan momentum Hari Kartini, tulisan berikut ini berupa tanya-jawab yang disampaikan Desie Christhyana Sari, atas quesioner yang diajukan dua Kader Bela Negara RI: Mischka Aoki & Devon kei Enzo, untuk keperluan studi. Berikut Wawancaranya:
Bagian 1: Pengalaman Pribadi & Tantangan
Tanya: Bisakah Ibu berbagi momen spesifik dalam karier politik di mana norma gender sangat memengaruhi bagaimana Ibu dipersepsikan atau diperlakukan?
Jawab: Dalam banyak kegiatan, baik sebagai anggota DPRD DKI Jakarta maupun sebagai pengurus Partai Demokrat, saya selalu membangun kapasitas dan berusaha meng-upgrade kemampuan diri agar semakin kompeten.
Sebab dengan kompetensi itulah, kita sebagai Perempuan akan dihargai dan diperlakukan dengan baik. Tidak ada yang berani memperlakukan secara diskriminatif karena kita akan disegani dengan kualitas diri kita juga.
Makanya secara spesifik, itu saya tunjukkan dengan sikap yang kritis, objektif, dan memberikan solusi-solusi terbaik atas berbagai masalah yang ada. Semua untuk mengabdi kepada masyarakat.
Tanya: Bagaimana interseksionalitas gender dengan identitas lain (ras, kelas sosial, atau usia) memengaruhi pengalaman politik Ibu?
Jawab: Sebagai orang politik, saya tentu harus bisa hadir dan bergaul dengan segala kalangan dan komunitas. Artinya tidak membeda-bedakan suku, ras, agama, dan golongan. Bahkan bicara dengan tendensi SARA terasa sangat tabu bagi saya.
Sebab kita sudah final dengan Pancasila. Maka dalam pergaulan politik, sejauh pengalaman saya tidak ada hambatan berkaitan isu SARA. Bahkan kalau pun ada, akan saya hadapi dan luruskan.
Tanya: Pernahkah Ibu merasa tertekan untuk menyesuaikan gaya kepemimpinan tertentu karena ekspektasi masyarakat terhadap perempuan?
Jawab: pada awal-awal tentu ada rasa gugup, karena itu manusiawi ketika kita masuk pada tantangan baru. Tapi semua bisa dilalui dengan adanya keyakinan dan dukungan dari semua orang.
Bahkan pada akhirnya saya sempat duduk sebagai Ketua Fraksi DPRD dan Sekretaris Partai Demokrat DKI Jakarta. Ilmu tentang karakter dan kepemimpinan itu akhirnya ditempa dengan berbagai tantangan, bahkan pengorbanan dan air mata. Maka kuncinya adalah keyakinan dan motivasi untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Itu kata kuncinya.
Bagian 2: Hambatan Struktural dan Sistemik
Tanya: Menurut Ibu, bagaimana institusi politik dan sistem pemilu saat ini masih memperkuat ketimpangan gender?
Jawab: Sejauh ini sudah ada kemajuan bagi Indonesia soal gender, walaupun masih ada persoalan di bagian lainnya. Tapi secara prinsip bahwa tantangan itu juga harus dijawab dengan diri kita sendiri.
Sebab sebesar apa pun peluang yang dibuka, kalau kita tidak meningkatkan kapasitas diri maka akan menjadi sia-sia.
Demikian juga sebaliknya, seberapa pun kita mampu dan kuat, kalau kesempatan itu ditutup maka akan sangat sulit.
Intinya, sekarang ini kita sebagai perempuan, khsusunya saya pribadi akan terus meng-upgrade diri dan kemampuan saya.
Sebab Rasullah SAW bersabda: barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia orang yang rugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kari kemarin maka dia orang yang dilaknat.
Tanya: Seberapa besar peran struktur kekuasaan informal, seperti jaringan politik dan mentorship, dalam memfasilitasi atau membatasi partisipasi politik perempuan?
Jawab: Ketika bicara kekuasaan informal, maka saya kerap kali menemukan hambatan pada karakter masyarakat, tradisi, dan budaya.
Dalam hal ini, kalangan perempuan seringkali dianggap kaum kelas dua, kaum lemah yang bisa diperlakukan seenaknya.
Pada kondisi seperti ini, maka kita harus menunjukkan power juga. Bahwa perempuan juga bisa jauh lebih baik dan lebih berprestasi dari yang lain. Maka sekali lagi, kemampuan dan kapasitas diri bagi perempuan itu sangat penting.
Sebab dengan menduduki posisi pada pengambilan kebijakan, maka kita akan bisa mewujudkan keadilan, kesamaan hak dan kewajiban. Hal ini harus diperjuangkan melalui lembaga informal juga.
Tanya: Apakah Ibu merasa media memperlakukan politisi perempuan secara berbeda dibandingkan laki-laki? Bisakah Ibu berbagi pengalaman atau pengamatan Ibu?
Jawab: Media saat ini berkembang begitu pesat. Eksistensi media massa pun akan berhadapan dengan perkembangan masyarakat dan tentu saja perkembangan teknologi.
Justru saat ini media sosial yang semakin dominan dan perkasa, sehingga yang terjadi justru ini menjadi tantangan.
Bagaimana kita memperlakukan dan menampilkan diri kita sendiri di media sosial, maka itu akan menjadi cermin bagaimana orang akan memperlakukan kita. Begitu kira-kira.
Bagian 3: Kebijakan & Advokasi
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed





