Ia menyarankan agar harga Rp6.000 per liter yang ditawarkan saat ini tetap kompetitif dibandingkan dengan penggunaan minyak jelantah untuk industri lain, seperti sabun atau lilin.
Selain itu, digitalisasi dengan pengembangan aplikasi untuk memudahkan masyarakat menemukan lokasi pengumpulan terdekat juga dianggap penting.
“Pertamina juga bisa mempertimbangkan digitalisasi dengan membuat aplikasi yang memudahkan masyarakat menemukan lokasi pengumpulan terdekat,” ujarnya.
Nevi berharap Program Green Movement UCO tidak hanya menjadi proyek sementara, tapi dapat menjadi inspirasi bagi sektor lain untuk mendukung daur ulang dan menciptakan energi bersih, sesuai dengan komitmen menjaga keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.
“Program ini harus berkelanjutan. Pertamina perlu menjadi teladan dalam transisi energi dan melibatkan pelaku usaha kecil yang selama ini telah berperan dalam pengumpulan minyak jelantah. Kolaborasi yang inklusif akan memastikan keberhasilan program ini sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang merata,” pungkasnya.(*)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











