Gubernur Mahyeldi Ungkap Alasan Penyempurna Nama Mesjid Raya Sumbar

Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi

Gubernur Mahyeldi Ungkap Alasan Penyempurna Nama Mesjid Raya Sumbar
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah.
120x600
a

AGAM, OTONOMINEWS.ID– Belakangan ini muncul beberapa pro dan kontra terhadap perencanaan pergantian nama mesjid Raya Sumbar. Oleh sebab itu, selaku kepala Daerah, Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi, memberikan kejelasan bahwa perencanaan pergantian nama Masjid Raya Sumbar ini menyempurnakan langkah penyempurnaan.

“Dari semulanya Masjid Raya Sumatera Barat, yang akan menjadi, Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi Provinsi Sumatera Barat”. ujar Mahyeldi saat peresmian Pondok Pesantren Modern Al-Bukhari di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam, Kamis (18/04/2024).

Baca Juga :  Dukung Pendidikan Berkualitas, Gubernur Mahyeldi Alokasikan Rp 2,6 Trilliun di Disdik Sumbar dan Miliaran Rupiah di OPD Lainnya

Menurut Mahyeldi, ini merupakan wujud penghargaan atas jasa Syekh Ahmad Khatib selaku ulama dan Imam Besar Masjidil Haram, yang juga tempat berguru bagi banyak ulama besar asal Sumbar dan bahkan ulama Nusantara.

Maka daripada itu, Gubernur menampik anggapan sebagian pihak, yang menilai penyempurnaan nama Masjid Raya hanya bermotif pada kepentingan peluang investasi dan kerja sama dengan Timur Tengah.

“Tujuan utama kita menyempurnakan nama Masjid Raya tentu saja wujud penghargaan kita terhadap jasa besar Syekh Ahmad Khatib. Bayangkan, betapa bangganya kita, beliau Ulama Besar asal Ranah Minang yang pernah menjadi Imam Besar di Masjidil Haram. Lalu, beliau adalah guru dari ulama-ulama di Ranah Minang, bahkan guru bagi ulama-ulama besar Nusantara. Tentu penghargaan ini sudah selayaknya kita sematkan,” papar Gubernur Mahyeldi.

Baca Juga :  Warga Nagari Pauh Kamang Mudiak Minta Pembukaan Jalan Usaha Tani, Ini Kata Mahyeldi

Menurutnya, Selaku Ulama dan Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi juga telah ikut mendidik para ulama besar seperti ulama pendiri NU, KH Hasyim Ashari; ulama pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan; ulama pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Syekh Sulaiman Ar Rasuli (Inyiak Canduang), dan banyak ulama lain di generasi yang sama, yang kemudian juga menjadi guru bagi ulama-ulama besar dari generasi setelahnya.

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *