Piala Bergilir Fatmawati Trophy 2026 Rancangan Prananda Prabowo

Mencetak Desain Kebaya sebagai Simbol Kepemimpinan Perempuan

Otonominews
Piala Bergilir Fatmawati Trophy 2026 Rancangan Prananda Prabowo
120x600
a

Sementara itu, pakar mode sekaligus perancang busana senior, Samuel Wattimena, memberikan perspektif mendalam mengenai filosofi lomba ini. Menurutnya, kompetisi ini bukan sekadar meniru gaya busana masa lalu, melainkan menangkap semangat kemajuan (progresif) dari Ibu Fatmawati.

Samuel mengungkapkan bahwa fokus lomba ini, sebagaimana arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, adalah pada “progres” keberadaan Ibu Fatmawati saat berpenampilan.

“Penampilan Ibu Fatmawati adalah ekspresi seorang wanita yang berusaha menjadi leader (pemimpin), bukan follower (pengikut),” tegas Samuel saat memberikan paparan tentang kebaya dan kerudung Ibu Bangsa.

Baca Juga :  PDIP Pecat Jokowi, Haidar Alwi: Data Menunjukkan Pengaruh Jokowi Membesarkan PDIP

Gaya dandan Fatmawati dinilai sangat progresif pada zamannya. Semangat inilah yang ingin dijadikan inti dari lomba, di mana Fatmawati menjadi “lokomotif” untuk memperkenalkan ragam wastra Nusantara. Pasangan dari kebaya tersebut diharapkan tidak hanya terpaku pada batik, tetapi bisa menggunakan sarung Makassar, tenun, lurik, sulam, hingga songket dari berbagai daerah.

Sebagai informasi, Fatmawati Trophy merupakan hasil kontemplasi M. Prananda Prabowo, Ketua DPP PDI Perjuangan, tentang pentingnya mengabadikan Fatmawati sebagai arsip nilai peradaban bangsa. Gagasan tersebut diwujudkan secara artistik oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga, yang merancang trofi dalam bentuk figur perempuan berjubah berdiri tegak—melambangkan keteguhan, keheningan, dan kekuatan moral perempuan Indonesia.

Baca Juga :  Ganjar Pranowo Bongkar Akar Sistemik Korupsi

Rangkaian acara peluncuran ini ditutup dengan tur Museum Fatmawati yang dipandu langsung oleh Puti Guntur Soekarno, serta ramah tamah dengan jamuan khas Bengkulu seperti gulai pakis, pendap, rendang lokan, hingga kudapan kue lepek binti. Sajian ini menjadi simbol kehadiran memori domestik dan kultural dalam sejarah perjuangan nasional.

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *