“Kami juga ingin menyampaikan bahwa sektor-sektor yang tumbuh baik di Jakarta selama 2025 adalah penyediaan akomodasi serta makan dan minum, yang berkali-kali kami berikan insentif dan pembebasan. Ketika diberikan, ternyata pertumbuhannya justru semakin baik. Yang kedua adalah sektor transportasi dan pergudangan, serta jasa lainnya,” paparnya.
Pemprov DKI Jakarta senantiasa mendukung pencapaian target inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ± 1 persen, menjaga inflasi pangan bergejolak pada kisaran 3–5 persen, serta mengendalikan inflasi pada periode Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Pemprov DKI Jakarta juga terus bersinergi dengan kementerian/lembaga, Bank Indonesia, Bulog, asosiasi atau pelaku usaha, serta instansi terkait lainnya untuk memastikan ketersediaan stok dan pasokan komoditas pangan strategis, serta memantau harga pangan guna mengendalikan inflasi di Jakarta. Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama antardaerah, pengembangan urban farming, pasar murah, dan berbagai program pengendalian inflasi lainnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengapresiasi upaya Pemprov DKI Jakarta dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
“Kita bisa keluar dari masa krisis. Boleh dikatakan pada kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi berada di bawah 5 persen, namun kini dapat melonjak menjadi 5,71 persen. Saya pikir salah satunya karena kepemimpinan yang sangat kuat dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” jelasnya.
Iwan mengatakan, capaian tersebut menunjukkan perekonomian DKI Jakarta memiliki daya resiliensi dan mampu tumbuh secara berkelanjutan. Ia berharap sinergi terus terjalin untuk pengendalian inflasi di Jakarta.
“Kami di TPID berkolaborasi dengan sangat solid. Insyaallah, kami akan terus mengawal pertumbuhan ekonomi pada 2026 dan menjaga inflasi tetap terkendali dalam kisaran 2,5 persen ± 1 persen,” tutupnya. (OTN-Deman)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












