Oleh: Nora Pabrimon, S.Pd.
Sejak masa Rasulullah SAW, masjid memiliki fungsi yang sangat luas. Tidak hanya sebagai tempat shalat dan ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, sosial, politik, dan kebudayaan Islam. Di masa awal Islam, Masjid Nabawi di Madinah menjadi tempat berkumpulnya kaum muslimin untuk belajar Al-Qur’an, berdiskusi, serta menyusun strategi dakwah dan pemerintahan.
Konsep tersebut terus di wariskan hingga kini. Masjid tidak hanya berdiri sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai simbol ilmu dan peradaban Islam. Melalui masjid, umat di ajak untuk memperdalam ilmu agama sekaligus membangun karakter dan moral yang baik. Terutama untuk generasi muda kedepan.
Pada zaman canggih saat ibadah shalat dilaksankan terutama shalat 5 waktu di masjid dan mushalla. Begitulah kondisi rutin dari tahun ke tahun. Namun jika kita cermat memperhatikannya, masjid dan mushala kurang diminati oleh generasi muda. Yang sering dilihat hanya orang sudah tua. Dari berbagai masjid dan mushalla memang tetap penuh. Tapi, remaja dan anak-anak sangat minim. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari saja. Kemanakah mereka? Ya,anak-anak dan remaja kini menghadapi godaan yang paling besar. Godaan itu bukan dari teman bermain sebaya, kakak atau adiknya. Tapi dari smart phone. Mereka memang lebih lengket sejak teknologi semakin canggih dengan alat komunikasi cerdas tersebut. Dulu para guru selalu mengingatkan orang tua agar menjauhkan atau membatasi anak-anak dari penggunaan smarthphone. Tetapi, sesudah pandemi Covid-19 beberapa tahun belakangan, anak justru belajar menggunakan smartphone dalam program daring (dalam jaringan).
Fenomena masjid yang sepi dari kaum anak muda memang banyak terjadi di berbagai tempat. Biasanya bukan karena anak muda tidak mau beribadah, tetapi ada beberapa faktor yang membuat mereka kurang merasa terikat dengan masjid.
Semakin asyiklah anak-anak dengan gawe-nya. Mereka bebas berselancar di dunia maya. Main game dan mengakses segalanya. Kadang lepas kendali dan mereka mengakses apa yang sesungguhnya belum pantas atau patut bagi mereka. Orang tua pun tak punya cukup waktu mengawasinya. Mereka pun kalah dalam urusan pengusaan teknologi yang ada di ponsel cerdas itu dari anak-anaknya. Mulai dari berdiri, duduk, berbaring, berjalan, bahkan sedang berkendara dan makan, anak-anak disibukkan dengan ponselnya. Kadang, sama saja. Orang tuanya juga begitu, sibuk pula dengan HP-nya.
Disisi lain, tidak ada pula program di masjid-masjid yang menarik bagi anak dan remaja untuk mengikutinya. Dalam pengelolaan kegiatan-kegiatan di masjid anak dan remaja juga tak dilibatkan. Mulai dari A sampai dengan Z semua ditangani oleh orang dewasa. Bahkan oleh orang-orang yang sudah di usia senja. Coba perhatikan, sangat minim sekali masjid dan mushalla yang melibatkan anak dan remaja dalam melaksanakan kegiatan. Padahal anak dan remaja itulah sesungguhnya yang akan menjadi generasi penerus yang akan memakmurkan masjid di masa datang. Tapi tentu jangan berharap mereka akan mencintai masjid atau mushalla jika mereka dalam masa kecilnya tidak diajak dan dilibatkan dalam berbagi kegiatan di masjid/mushalla.
Masalah ini adalah tangung jawab bersama terutama orang tua pengurus masjid, pemerintah untuk selalu mengarahkan dan mengajak generasi muda untuk selalu mencintai masjid. Hal itu masjid terwujud dengan membuat program yang menarik generasi muda.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed









