Ia menambahkan, berbagai kegiatan seperti Festival Siti Nurbaya dan Festival Kota Tua Padang telah menjadi momentum penting menghidupkan kawasan heritage tersebut.
“Tahun 2026 kita targetkan kawasan ini siap beroperasi penuh sebagai destinasi wisata unggulan. Penataan akan dimulai dengan pengecatan bangunan khas, lampu dan bangku bergaya kolonial, hingga penataan jalur wisata,” kata Lila optimistis.
Dalam wawancara terpisah, Yudi mengungkapkan bahwa penataan awal kawasan sudah mulai berjalan, meski pedoman resmi masih difinalisasi.
“Langkah-langkah kecil seperti pengecatan bangunan, pengaturan transportasi, dan penyediaan ruang publik sudah kita mulai. Ini menjadi titik awal kebangkitan Kota Tua Padang,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesadaran pemilik bangunan terhadap aturan pelestarian.
“Meski bangunan itu milik pribadi, selama berada di kawasan heritage, tetap wajib menjaga nilai sejarahnya. Jangan sampai kita kehilangan identitas budaya karena abai terhadap aturan,” tegasnya.
FGD ini merupakan bagian dari perjalanan panjang pengembangan Kota Tua Padang yang telah memiliki masterplan sejak 2023. Dengan hadirnya pedoman baru ini, pemerintah berharap penataan kawasan bersejarah tersebut berjalan lebih terarah, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kawasan Kota Tua Padang pun diharapkan tak sekadar menjadi saksi sejarah masa lalu, tetapi juga wajah baru pariwisata Sumatera Barat, sebuah destinasi yang hidup, berkarakter, dan membanggakan.(*/)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed





