CERPEN: Pelukan Terakhir Suami Sebelum Talak

Otonominews
CERPEN: Pelukan Terakhir Suami Sebelum Talak
120x600
a

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

KETIKA cinta diuji dengan pengkhianatan, tidak semua luka dibalas dengan amarah. Seorang suami memilih memeluk istrinya yang berselingkuh, bukan untuk bertahan, tapi untuk melepaskan. Kata-katanya membuat pilu siapa pun yang mendengar. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan rahasia yang jauh lebih dalam dari sekadar kekecewaan.

Suara pengumuman bandara menggema, menyebut jadwal keberangkatan pesawat tujuan Kuala Lumpur. Orang-orang berlalu lalang, sibuk dengan koper, boarding pass, dan perpisahan yang tak pernah benar-benar siap dihadapi. Di sudut ruang tunggu, seorang pria berdiri mematung, mengenakan jaket jeans yang sudah tampak lusuh di bagian siku. Di hadapannya, seorang perempuan mengenakan kerudung merah bata menunduk, memeluk erat sebuah tas tangan.

Mereka tak bicara, hanya saling menatap. Sesekali mata perempuan itu bergetar, tangannya gemetar. Sang pria, dengan mata berkaca, melangkah pelan lalu merengkuhnya dalam pelukan. Pelukan yang bukan untuk bertahan, melainkan untuk mengikhlaskan.

“Maafkan aku,” bisiknya, suara serak tertahan. “Jika selama ini aku belum bisa jadi suami yang baik, sehingga kau berpaling dariku. Aku tak akan marah. Aku hanya ingin kau berhenti menyakiti dirimu sendiri dengan maksiat yang berulang. Menikahlah dengannya, jika itu membuatmu lebih bahagia.”

Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Tangis yang mungkin lahir dari rasa bersalah, atau mungkin dari kehilangan kenyamanan seorang lelaki yang tak pernah mengangkat suara meski hatinya remuk.

“Aku ucapkan talak kepadamu,” lanjut pria itu, masih memeluknya. “Bismillah. Aku talak kamu.”

Beberapa orang yang berada di dekat mereka mulai memperhatikan. Ada yang diam-diam merekam, ada pula yang menoleh sambil menahan haru. Satu per satu air mata jatuh dari kelopak pria itu, namun ia tetap berdiri tegak. Tak ada suara tinggi, tak ada caci maki. Hanya keikhlasan yang terasa menyayat.

Enam bulan berlalu sejak kejadian di bandara itu. Di sebuah rumah kontrakan kecil, pria itu Raka namanya menyeduh kopi sambil menatap layar laptop. Di balik wajah yang tenang, ada sesuatu yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Bukan tentang perceraiannya, bukan pula tentang rasa sakitnya, melainkan tentang sebuah rencana yang telah ia susun jauh sebelum semua ini terjadi.

Raka bukan orang yang naif. Ia tahu sejak dua tahun lalu istrinya, Nisa, berubah. Dari jadwal yang tak wajar, senyum yang tak sehangat dulu, hingga percakapan diam-diam di malam hari. Namun Raka tak ingin langsung menghakimi. Ia menyelidiki pelan-pelan, memastikan semua yang ia rasakan bukan sekadar curiga tanpa dasar.

Sampai akhirnya, satu malam, ia mengikuti Nisa secara diam-diam ke sebuah hotel. Di sanalah segalanya jelas. Ia melihat dengan mata kepala sendiri Nisa menggenggam tangan lelaki lain. Raka tak langsung menghampiri. Ia mundur, pulang, lalu menulis sepucuk surat.

Dalam surat itu, ia menulis: “Aku tidak akan menyakitimu, tapi aku akan menyelamatkan diriku dari terus disakiti.”

Saat pelukan itu terjadi di bandara, Raka sudah mempersiapkan segalanya. Ia sudah mengajukan cerai ke pengadilan agama. Ia juga sudah menyiapkan dokumen pembagian harta, bahkan membiarkan Nisa mengambil sebagian besar aset yang mereka miliki bersama. Bagi Raka, tak ada gunanya memperjuangkan sesuatu yang sudah tak utuh.

Tapi yang membuat cerita ini berbeda adalah kenyataan bahwa Raka bukanlah suami biasa. Ia mantan jaksa yang kini menjadi penulis buku spiritual dan konsultan rumah tangga. Kisahnya viral bukan karena kesedihannya, tapi karena kebijaksanaannya yang langka.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *