“Kalau ‘Betalo’ dimaksimalkan, bisa jadi pemikat wisatawan. Kita bantu penuhi kursi-kursi pesawat ke Gorontalo dan hidupkan UMKM serta seni daerah,” tegas Fadel, yang menyebut Gubernur DKI Jakarta sebagai sahabat lamanya di ITB.
Tak berhenti di budaya, Fadel menyoroti pentingnya sektor pertanian Gorontalo sebagai kekuatan masa depan. Ia menyerukan pemerintah pusat hingga daerah untuk lebih serius membangun sistem yang mendukung petani lokal agar Gorontalo bukan hanya dikenal karena budayanya, tetapi juga sebagai lumbung pangan nasional.
Lamahu, ungkapnya, berkomitmen membantu anak-anak Gorontalo mendapatkan pendidikan berkualitas dengan program beasiswa dan rekomendasi ke perguruan tinggi di Pulau Jawa.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, dengan cerdas menggeser wacana ke ranah ekonomi. Ia menyuarakan harapan besar agar sinergi budaya ini diperluas ke sektor UMKM.
“Jakarta punya Sarinah sebagai etalase UMKM nasional, tapi belum ada gerai Gorontalo di sana. Ini peluang besar yang harus kita kejar,” kata Gusnar.
Dengan budaya sebagai pintu masuk dan ekonomi sebagai kekuatan penopang, Betalo kini bukan sekadar pertunjukan, tapi menjadi simbol perlawanan terhadap ketertinggalan ekonomi dan penguatan identitas daerah.
Jenderal TNI (Purn) Wiranto mengingatkan pentingnya menjaga jati diri Gorontalo agar tidak terkikis budaya asing. “Budaya adalah benteng terakhir bangsa,” tegasnya.
Gorontalo tak sekadar ingin dikenal karena adat dan seni, tapi juga siap unjuk gigi dalam perekonomian nasional! Dalam forum silaturahmi Lamahu yang sarat muatan budaya dan visi besar, para tokoh nasional menegaskan pentingnya kolaborasi Betalo—akulturasi Betawi-Gorontalo—sebagai jembatan budaya sekaligus strategi ekonomi baru.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed





