Sudirman Said: Rezim Sekarang Lebih Primitif dari Masa Soeharto di Pemilu 1971

Rezim Jokowi Melebihi Cara Berpikir dan Bertindak Rezim Soeharto

120x600
a

Jakarta, Otonominews.id – Co-captain Timnas Anies-Muhaimin (AMIN) Sudirman Said, menyebut, jika cara-cara yang dilakukan rezim Presiden Jokowi pada Pemilu 2024 sama dengan yang dilakukan rezim Presiden Soeharto pada Pemilu 1971. Bahkan, ia menyebut cara yang dilakukan sekarang lebih primitif.

Hal itu disampaikan Sudirman dalam acara Bedah Buku “NU, PNI dan Kekerasan Pemilu 1971” karya Ken Ward (1972) yang digelar di Bakoel Kopi, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (2/4/2024).

Awalnya Sudirman menceritakan pengalamannya soal kekerasan hingga intimidasi yang dilakukan rezim Orde Baru kala Pemilu 1971. Dari mulai pihak yang diintimidasi oleh ABRI berkali-kali hingga adanya ulama yang tak mau mendukung Golkar saat itu diburu dan disiksa.

“Dari cerita ulama dipanggil diintimidasi dimulai barangkali saya mencatat bahwa waktu itu para ulama yang mendukung selain Golkar NU dan PPP itu sempat dicari… tadi kemudian dimasukan ke sumur. Disiksa dengan bambu galah bambu itu oleh para anggota ABRI pada waktu itu petugas sebagai ABRI. Itu jadi saya ingat sekali dengan keadaan itu,” kata Sudirman.

Ia lantas menyampaikan, beberapa perbandingan mengenai perbedaan kondisi perekonomian Indonesia saat itu. Namun, justru saat itu yang terjadi konsolidasi secara besar-besaran untuk memenangkan Golkar.

“Angka buta huruf masih sangat tinggi, jadi waktu itu kira-kira pemerintah yang baru selesai mengambil alih dari Orde Lama yang memang mewarisi situasi ekonomi yang sangat berat kira-kira sedang berbenah ya karena itu memang melakukan konsolidasi besar-besaran gila-gilaan yang tadi dikatakan impactnya ternyata sama pada 20 tahun ke depan 1998 bisa urai kemudian terjadi perubahan mendasar,” tuturnya.

Ia lantas menyampaikan, cara berpikir dan bertindak yang dilakukan rezim Orde Baru saat itu ternyata sama dengan rezim saat ini, bahkan disebut cara saat ini lebih primitif dilakukan.

“Yang saya mau sampaikan di sini adalah ada satu pondasi berpikir dan bertindak berbeda tapi melakukan hal-hal yang sama bahkan lebih primitif dari pada yang dikerjakan pada tahun 70an,” katanya.

r

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + ten =