Plh. Dirjen Bina Adwil Kemendagri Sebut Cara Mengatasi Konflik Tanah, Salah Satunya dengan Reforma Agraria

Plh Dirjen Bina Adwil Kemendagri, Amran.(Foro: Kemendagri)
120x600
a

JATIM Otonominews.id – Kebijakan reforma agraria menjadi salah satu upaya mengantisipasi dan mencegah konflik pertanahan. Kebijakan ini dilakukan pemerintah yang terus berkomitmen untuk menyelesaikan konflik pertanahan yang terjadi.

Hal ini disampaikan Pelaksana Harian (Plh.) Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Administrasi Kewilayahan (Adwil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Amran, dalam Rapat Diseminasi dan Asistensi Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan di Daerah yang dihelat di Kota Malang Jawa Timur, Rabu (28/2/2024).

“Pemerintah memiliki komitmen penuh dalam percepatan penyelesaian konflik agraria dan penguatan kebijakan reforma agraria melalui sinergitas serta sinkronisasi K/L dan pemerintah daerah, baik kebijakan maupun implementasinya,” kata Amran, dilansir dari laman resmi Kmendagri, Kamis 29 Februari 2024.

Amran menjelaskan, menindaklanjuti komitmen tersebut, maka pada 2023 Kemendagri dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) telah menyepakati Nota Kesepahaman (MoU) Nomor 5001.2.1/5646/SJ, Nomor 36/SKB-HK.03.01/X/2023 tentang Sinergi Pelaksanaan Tugas dan Fungsi di Bidang Pemerintahan Dalam Negeri dan Bidang Agraria/Pertanahan dan Tata Ruang.

Kata Amran, Kemendagri telah melakukan langkah-langkah perbaikan untuk mengoptimalkan pembinaan kepada pemerintah daerah (Pemda) khususnya bidang pertanahan, sebagai bentuk tindak lanjut dari Nota Kesepahaman itu. Langkah perbaikan itu berupa inisiasi dukungan data dan informasi kasus pertanahan dan penanganannya di daerah pada Oktober 2023.

“Dukungan basis data dan informasi kasus serta penanganannya oleh pemerintah daerah menjadi literasi untuk kegiatan penyusunan konsep perjanjian kerja sama sebagai tindak lanjut dari MoU tersebut,” jelasnya.

Melalui dukungan data kasus pertanahan dan penanganan sengketa serta konflik pertanahan tersebut, lanjut Amran, diharapkan dapat diperoleh beberapa informasi yang bermanfaat. Ia mencontihkan, misalnya informasi kasus, sengketa, dan konflik pertanahan di daerah secara holistik.

Lihat Juga :  Panas! Pemkab Solok Sanggah Dalih Gubernur Mahyeldi Tak Laporkan Bupati Epyardi ke Kemendagri

Kemudian juga, informasi persebaran sengketa dan konflik pertanahan dan penanganan di daerah, termasuk tingkat keberhasilan dan evaluasinya.

Masih dijelaskan Amran, informasi lainnya yang diharapkan adalah, dapat mengetahui pola-pola terjadinya sengketa konflik serta pola penanganannya.

Amran menambahkan, informasi ini dapat menjadi bahan masukan dalam penyusunan konsep Perjanjian Kerja Sama (PKS). Tak hanya itu, berbagai data yang terhimpun tersebut diharapkan dapat menjadi benchmarking penanganan masalah pertanahan pada pola yang serupa di daerah lain.

“Kami berharap, pelaksanaan rapat diseminasi dan asistensi kebijakan pemerintah dalam penanganan masalah pertanahan ini dapat memudahkan kita menyelesaikan berbagai macam masalah pertanahan,” pungkasnya.[***]

r

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *